My passion to WRITE preceeds me, My urge to be RIGHT defeats me, Certainly, my intent not to be WRONG, guides me. This is my journal, abt life. Abt how I see life. Pls dispute me if you may!...I don't want anyone to agree with me...totally.

Monday, May 04, 2009

Mt Ophir / Gunung Ledang : 2nd May 2009


Harsh and unfriendly!

That is what I think Mt Ophir has become. Nostalgic? - not even close. Revisting Mt Ophir after more than 15 years lapsed had me all excited. I certainly love at a chance to walk down the memory lanes in Mt Ophir .
But oh my. Was I wrong abt her. I mean Mt Ophir! She was not the same anymore and did not welcome me gracefully. I don't think she even recognise me at all. Or was it just just plain jealousy that I now revisited her with my beloved ratu and my kids after more than 15 years absent? An affair that went all wrong? Bummer!

I used to frequent Mt Ophir when I was younger ? between 15 yrs old 27 yrs old ? I'm 45 yrs old now with 3 kids. More like 20 times if my memory still serves me right - leading groups of friends and at times I've even trailed to the summit alone and still wanting more. Of course I conquered other mountains too - in Malaysia, Asia, Brazil etc. But Mt Ophir has been my all time favourite. It gives many novice climbers a good taste of the in-betweens of other harsh mountains. Fortunately or not my adventurous life ended 3 years before I got married.

To think that I've painted some wonderful and exciting (not to mentioned challenging) memories of Mt Ophir to my family and my 2 guests (Rahim and beloved wife Sapiah), I had them fooled. Ok, I was fooled too by those yesteryear of memories.

My vivid images of Telaga Puteri and the Kolam Gajah and some other pools I've once encountered had me (and my guests) all excited. I was sure we could just get wet and "berendam" on our ascending or descending trails. But instead, we were welcomed by the Bukit Semput (more like Bukit Pancit to me) and then tested by the gruelling KFC. Kentucky Fried Chicken my foot! No finger licking good feeling at all. It was truly a Killing Field Centre. Not to mention the various ladders and apscaling we had to go through.

Moments-after-moments of enduring the harsh terrains and pushing ourselves to the limits. Opps! I exaggerate. It was more like torture for my ratu (and maybe me). I almost forgot that I am 45 years old, and I was trailling Mt Ophir - not Mt Tahan that has the reputation to offend its conquerrers by its harsh terrains. And I did what I would normally do during such trips - i.e I kept cursing myself for putting myself into such agony - as we crossed one obstacle after another. For some moments there, I was almost certain that either my wife was about to break down or would even push me off the cliff as I tried motivating her to continue the journey to the summit. Mind me, it was her 1st time ever in jungle trekking - let alone mountain climbing.

But at long last! Our pains were rewarded and "healed" by our final climbs to the summit. What a feeling! The sudden sense of achievement rushed to our brains and the rest of our body! But of course, the thoughts of going back to the foot of the mountains sent jitters to our knees. The next following hours was truly yet another knee-jerking experience. But we made it anyway. Thank God!

Considering all the pains, it was worth it. In total we had walked up and down Mt Ophir approximitely 14 hours. Setting off at 845pm on 2nd May 2009 and we reached the foot of the mountain at abt 1045pm on 2nd May 2009.

Ok. Don't get me wrong here. I still love her (Mt Ophir) just as much. But not as much as my love for my beloved Hanim and Putera, Puteri and Budi. And in spite of the gruesome obstacles we have had gone through in Mt Ophir, I do encourage anyone and everyone to climb it at least once in yr life time.

The fact that my wife and kids are safe and sound throughout the journey is truly a bliss. Oh yes, the rest of the MNS (MNS-Johore (Malaysia Nature Society ? Johore) team and the guide too. The company was superb. Our different backgrounds made this event worth gruelling.

Kudos! We deserve a pat on our backs!

To Encik Hamid and Wife ? to being good host and organiser. We truly had Makan Non-Stop! To Dr Francis Hoe and Family, Dr Tan, Albert, Karen, Zalina, Rahman, Rahim, Sapiah and names I could not recall. You guys are Fantastic! We had a wonderful trip. Obsolutely! And I don't mean maybe. We are looking forward to the next trip when time permits. Hooray!

All other links:
1. Photos for faster viewing http://www.picasaweb.com/one.dzan
2. Photos for downloading and printing : http://dzan.org/ goto PHOTO GALLERY - More than just a Photo Gallery!
3. Non MNS members who wants to join the MNS-Johore:
4. YM egroup to those interested on the MNS-Johore news and events http://groups.yahoo.com/group/mns_johor/

/dzan
4th May 2009

Tuesday, January 20, 2009

2. Aku dan Melayu - Bahasa Melambangkan Bangsa

Kalau nak dihitung peratusan saya berbahasa melayu dalam sehari, rasanya tidak mececah 10 peratus. Tentu saja ini memalukan. Dan kalau dicampur peratusan keluarga saya berbahasa melayu mungkin juga mencecah 20 peratus. Tapi ini juga sangat membimbangkan.

Sejak anak2 saya kecil lagi kami sudah melatihkan mereka berbahasa Inggeris. Jadi penguasaan bahasa melayu mereka amat lemah. Pernah ketika itu (semasa berumur 4-7 tahun), mereka bertanya kepada kami (dalam bahasa Inggeris) " Kita ini orang apa? Kalau melayu kenapa bercakap bahasa Inggeris?" Dan bila mereka bertanya datuk mereka, dijawab pula "Atuk orang Inggeris lah. Ibu Atuk berasal dari London dan namanya sebenarnya adalah MARY". Saya hanya mampu tersenyum sinis tanpa memperbetulkan keadaan tersebut. Kiranya mereka telah dikelentongkan. Kasihan sekali. Namun begitu mereka semakin akur tentang asal usul mereka dan sedar tentang kemelayuan mereka.

Jadi apa kah saya sekeluarga merupakan keluarga yang gagal mempertahankan Bangsa melayu?

Tentu saja kita pernah mendengar ungkapan "BAHASA MELAMBANGKAN BANGSA". Tapi apakah pengertian sebenar ungkapan tersebut? Kalau saya nyatakan bahawa tegak nya bangsa tidak tertakluk pada bahasa, Apakah kenyataan itu dapat berdiri tegak dan mempertahankan keadaan kami yang sengaja tidak fasih berbahasa melayu? Walau pun pada dasarnya itu adalah semacam alasan remeh untu tidak terus berbahasa melayu. Boo!!

2.1 Bahasa Indah dan Tepat

Mengikut kata MUNSYI, Alif Danya (penulis Indonesia) dalam bukunya BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA - cetakan pertama Jun 2005, bahasa itu harus Indah dan Tepat. Ia harus mampu dimiliki dan diolah sebagaimana mungkin oleh penutur. Katanya pengurusan bahasa itu bukan pengurusan sarjana bahasa semata ataupun ahli dewan bahasa. sebagai pemiliknya. Katanya bahasa itu harus bebas dimiliki orang ramai yang menggunakannya.

Sekilas pandang, ada kebenaran dalam kenyataan tersebut. Lantaran itu sesebuah Bahasa mampu berkembang dan berdaya saing mengikut masyarakat dan tamadun tertentu. Dan mungkin dalam konteks Indonesia kesan indah yang terselah dari kebebasan itu adalah:

1.) Rata-rata bangsa Indonesia mampu menyuarakan maksud hati dan minda tanpa ragu diancam sebagai perosak bahasa. Mereka kelihatan petah dengan soalan-soalan yang ditujukan secara spontan.
2.) Kerana dinding keterbatasan bahasa itu telah dirobohkan nilai estetika dalam penyusanan kata dan ayat-ayat mereka itu terlihat sangat menyerlah dan indah.

Tapi kesan buruk juga berlaku dalam kebebasan berbahasa mengikut filsafah Indah dan Tepat. Pada dasarnya kita sedar bahawa yang Indah dan Tepat itu sangat subjectif dan tertakluk pada mata dan rasa seseorang - atau pun mungkin pada sesebuah masyarakat. Yang indah dimata seseorang mungkin dianggap buruk pada yang lain. Dan yang tepat dimata sesorang juga mungkin berlawanan dengan penerimaan orang lain.

Jadi bahasa yang dituturkan mengikut kaedah "Indah dan Tepat" itu menjadi canggung ditelinga golongan yang faham dengan tata-tertib bahasa. Ia hanya mampu berdiri dalam masyarakat yang tidak mahu akur dengan peradaban bahasa itu sendiri. Mentelah lagi, kebebasan berbahasa itu menularkan penyakit keInggerisan yang sangat kronik kalau dikaji dari segi ilmiah.

Saya pernah berbincang dengan seorang sahabat yang merasa menginggeriskan bahasa melayu memberi ketetapan maksud penutur dengan jelas. Jadi bahasa itu harus bebas katanya. Sebab, katanya lagi, kalau bahasa itu dibendung dalam beradaban, ianya akan jadi beku.

Apa pun juga alasannya, bangsa Indonesia telah mampu merobohkan segala beradaban bahas. Filsafat Indah dan Tepat itu telah digarap dengan senang hati - dalam hidup sehari-hari mereka. Apa yang terfikir dalam kepala dan unkapan yang terlintas diminda diucapkan tanpa mengambil kira konteks socio budaya, keadaan sekeliling, mahupun konteks pengertiannya bahasa itu sendiri.
Tak hairanlah kadang saya bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh mereka. Kadang-kadang terlihat seolah-olah bahasa itu diperlekehkan oleh mereka dengan perkataan yang tidak sesuai dalam konteks sekeliling. Itu belum lagi disentuh tentang isu bahasa inggeris yang langsung dipelatkan mengikut lidah dan keinginan penutur itu sendiri.

Misalnya, pembantu rumah saya yang berasal dari indonesia, memanggil peti sejuk sebagai KOOL GAS.....kerja gotong royong, dipanggilnya "kerja borng" dan yang paling lucu apabila pembantu saya memanggil penjual gas " TET-TET"....hanya kerana, bunyi "TET-TET" itu berkumandang tiap kalai lori penjual itu melintasi kawasan rumah kami. Tentu sahaja, bahasa nya begitu TEPAT!

2.2 Bahasa Baik dan Benar

Rata-rata Dewan bahasa menyesyorkan bahasa bahasa seharusnya Baik dan Benar...bersambung..

Sunday, January 11, 2009

1. Aku dan Melayu - Mukadimah

Berjinak-jinak dengan Bahasa

Salam,

Tahun (2009) ini saya berazam untuk mempertingkatkan ilmu dan amalan dalam bahasa melayu. Sebagai langkah pertama, biarlah saya menulis dan berfikir dalam bahasa melayu sesampai ia nya sebati dalam jiwa. Atau paling tidak akan saya memperuntukkan usaha kearah itu.

Saya adalah melayu - bukan kerana melayu BARU mahu pun melayu LAMA. Malah tidak pernah saya tahu apa erti Melayu Baru. Apatah lagi mahu memahami istilah dan ungkapan Melayu Lama. Biarlah ditekankan disini bahawa saya hanyalah sekadar seorang melayu yang sering merasa bangga dengan jiwa kemelayuan saya sendiri - lalu pada dasarnya saya termaktub dalam perangkaan tata-susila dan peradaban budaya melayu itu sendiri. Ada semacam pergelutan dalam diri yang sekian lama tidak berbicara bahasa melayu dan kini sedang mula berjinak kembali kepada bahasa ibuanda.

Mahu tidak mahu saya sudah sangat terbiasa berfikir, bertutur dan menulis dalam bahasa Inggeris. Entahlah, mungkin salah persekitaran, salah pendidikan, salah orang tua(?) atau mungkin juga salah diri sendiri yang telah lama mengambil langkah untuk mengikut arus dan aliran utama diatas bumi yang dipijak dan dibawah langit yang dijunjung. Yang nyata, walaupun saya terpaksa berbahasa inggeris, hakikatnya iada sesiapa yang pernah meletakkan pistol dikepala.

Sistem pembelajaran saya sejak kecil mendorong saya untuk terus berbahasa Inggeris. Ketika masuk kealam perkerjaan, bahasa inggeris juga menjadi bahasa perantaraan sehari-hari. Dan saya juga tidak pernah merasa berkurangnya kemelayuan saya - biar tercemar macammana pun, saya tidak pernah melihat melayu saya diperlekehkan oleh siapa-siapa.

Ketika saya berumur antara tujuh atau delapan tahun, saya pernah didatangi oleh sekumpulan pendakwah kristian untuk mempengaruhi saya ke agama mereka. Banyak persoalan (dan cemuhan) yang dilontarkan terhadap saya dan Islam. Lantaran ketidak upayaan dan petah nya bertutur dalam bahasa Inggeris, terlepas lah kesempatan untuk mempertahankan agama saya - apalagi mempertahan kan hak asasi diri. Peristiwa itu menjadi iktibar betapa peri pentingnya untuk saya memperbaiki dan mempertingkatan penguasaan bahasa Inggeris Lantarannya jadi begini lah keadaan saya.

Antara sedar dan tidak sedar, saya akur bahawa bertutur dalam bahasa bukan melayu sehari-hari sebenarnya tidak sahaja merosakkan keupayaan dan penguasaan bahasa melayu. Malah kesan sampingan yang paling meruncing adalah penerapan nilai dan budaya asing yang menyerlap masuk kedalam bentuk cara dan gaya permikiran, penuturan dan penulisan seseorang. Lalu budaya pelaku, pemikir dan penutur bahasa asing itu menjalar dalam diri dan masyarakat kita. Dengan kesedaran ini saya yakin bahawa saya tidak sendiri dalam hal ini. Dan saya beritizam untuk melakukan sesuatu.

Ketika ini minda saya terus bergejolak dan terus bertanya, dimana nilai dan peradaban melayu dalam diri saya? Kemana arus-arah-tuju bahasa tercinta ini dimata masyarakat dunia? Dan apakah langkah yang patut diambil untuk memertabatkan bahasa ini keperingkat antarabangsa - sesampai bahasa ini dapat menerobos dinding pemisah antara masyarakat berbahasa melayu dengan masyarakat yang bukan berbahasa melayu.

Ramai kekawan melayu yang pernah saya bergaul begitu bersemangat untuk mempertahankan bahasa melayu tercinta - lebih-lebih lagi kawan-kawan diMalaysia. uatu semangat yang sangat terpuji.

Malangnya, kita gagal mengambil kira tentang perkembangan, pembangungan dan penggunaan bahasa melayu itu sendiri dalam masyarakat majmuk - (yang bukan melayu tapi berbahasa melayu). Kita juga gagal mengambil kira tentang waktu dan zaman ketika ini. Bagaimana pula untuk zaman mendatang? Laungan sentiment Bahasa Melayu untuk melayu lebih ketara jika dibandingkan Bahasa Melayu untuk dunia. Akibatnya, bahasa melayu diperkotak-katikkan oleh orang melayu sendiri. Menjadi lumpuh dari terus berkembang jauh kemasyarakat bukan melayu diAsia mahupun diantero dunia.

Saya punya teori, kalau mahu memperkasakan bahasa melayu, kita perlu melakarkan matlamat sejagat, but matlamat sebangsa semata. Sebab matlamat sebangsa akan gagal mencapai tujuan mempertahankan, memertabatkan dan memperkembangkan kemata dunia. Dan bahasa ini tidak akan dapat dikomersilkan. Ianya akan terus gagal menjadi bahasa pengantar dalam dunia global perniagaan. Jika ini terus berlaku, akan hilanglah melayu didunia. Dan tidak hairanlah jika suatu hari nanti Bahasa Melayu menjadi antara bahasa kuno didunia. Sebab ketika itu peri pentingnya penggunaan bahasa melayu itu telah hilang sama sekali - tiada nilai komersilnya.

Secara peribadi, tentunya banyak usaha yang saya perlu lakukan. Azam untuk terus belajar, berfikir, menulis dan bertutur dalam bahasa melayu akan kian menjadi tantangan yang paling hebat dalam persikitaran saya. Saya tidak bertujuan mengubah dunia, sekadar mengubah diri sendiri.

Seperkara lagi. Memandangkan saya ini bukan ahli bahasa, bukan pengamal bahasa melayu seharian dan juga bukan seorang munsyi, maka apa yang saya telah dan akan memperkatakan , terbit dari pandangan yang mungkin sangat bias atau juga prejudis. Segala pengamatan yang bakal saya ketengahkan berkitar dari pengalaman dan penyelidikan peribadi - disokong oleh beberapa fakta dan teori ilmiah.

Inilah tikungan yang perlu saya harungi dalam diri. Yang nyatanya ini bukan suatu usaha untuk memperlekehkan sesiapa. Sekadar suatu usaha peribadi yang seharusnya saya lakukan sejak kecil lagi.

/dzan

Wednesday, December 24, 2008

nyawa, hidup, mati

nyawa kalau dapat dihitung
tentu waktu tiada terbendung
lalu kematian dapat ditebus dengan harga diri
cagarannya adalah kesempurnaan budi perkerti

tubuh yang diratah usah digusar
sememangnya hidup dan mati itu berputar

/dzan

Saturday, November 22, 2008

The call to Islamic dakwah

salam,

In the recent decade (of our time), i think we have witnessed (and our parents, brothers, sisters and relatives have experienced ) the irony of islamic dakwah and the approaches in handling the world problems - let alone our daily problems. It is not Islam in questioned but rather our approaches - our daily way-of-life (ad-deen), our sentiments and our faith that translate to our Islamic vitues. (so what is the Islamic virtue again?)

I've heard of this slogan just too often : there is 1001 ways to solve a problem. (Sure! violent and / or compulsion cannot be one of them - even by insinuation!!) But what does this mean? In essence I reckoned and discovered that this statement is just a ploy and as cliche as "don't be judgemental". These phrases are often used to shut others out (muslims or non-muslims alike) - when the concerned parties want to depart from the responsibilities presented to him / her. But when the concerned parties want to harp n their values and approaches towards others, these statements do not seem to apply to them...and his / her way seems to be the only way.....ahh???

The irony is, we are in a free world and like it or not we are to listen or succumb to all that freedom-of-speech craps. And for the freedom-of-speech speakers / writers, mind you, others are free to speak their minds too and you have to take your own medicine too. So when some one voiced up their concerns, it is not an attempt to enforce their values towards others, but an opportunity (hidayah(?) maybe) for one to ponder and really react as ummah with wisdom.

Coming back to the Islamic ummah is trapped in he above "phenomenon"/ mentality, I like us to question ourselves:

1. what ever happened to "Dakwah with wisdom" (?) - the reminder by the prophet
2. what ever happened to "there is no compulsion in religion" (?) - reminder from Allah
3. what ever happened to "Rasulllullah S.A.W is the best exampler" (?) - reminder from Allah.

There are more than 1 reminders and guidance from Allah or from Rasul on how to conduct ourselves before others. Yet again, when we want to justify our "misdeeds", we would use some current figures we hold dearly - failling to see that if we listened to Allah's Qalam, we have no choice but to follow what Rasullullah did or said .

In one of the book written by a recent ulama on ISLAMIC DAKWAH (can't remember the wirter and the book) title, he cautioned his readers "that - while we want to make our point in our message, we do not have to resort in adopting the same approach of our opponents and we do not have to borrow their "materials" just to make our points. "

The truth is, our opponents (western world and non-muslims) have borrowed /used many of our knowledge and called it their own by repackaging and rebranding it eg. the 7 habits, the FISH etc etc etc. So why would I even want to choose YUSOF ISLAM or Bernard Shaw as my life example?

I don't really understand why, and I don't think I want to spend my time in understanding it. Live-Die and to ReLive, I don't wish to understand why our ummah is getting deeper in this mentalitly and irony.

But I'm calling myself and everyone that we must understand the message of Islam - its essense and its values. Otherwise, we be more and more gullible in our own world...and we are trapped in our delusional "truth" - whatever that means.

We are NOT one Brainless Ummah of yesterday, today and in future. Islam had liberated the human civilization, but sadly the current ummah has yet to liberate themselves.

So, moving forward, should we let others (schools, organization, cult, or somekind of ulama) shape our kids' minds? I for one, striving hard to dispel this irony in my own ummah (aka family). Don't wait, act (or react) now - to liberate our ummah. Lets liberate our minds that will contribute to the world peace with wisdom. Lets tear down the four walls - school walls, cave walls etc... the promise for heaven is from Allah S.W.T and not from our guru!!

Waallahualam.

/dzan

Wednesday, November 19, 2008

soalan retorik

kalau mati itu suatu peringatan
perlukah aku dimomok-momokan?

/dzan

Tuesday, November 11, 2008

Lets perform the Haj

The 2008 Haj season is coming. Lots of preparation for the jemaah since few yrs back (i'm sure). May their Haj will be blessed and mabrul. And may Allah S.W.T give them a safe journey back and forth.

My bonda once wished that she could perform her Haj with me. But I wasn't ready to go anytime sooner. She said lets go Umrah together, but I reasoned that I would not want to perform umrah until my obligation for the HAJ is fulfilled. Fortunately she conceded.Justify Full
Considering her "bionic" right-leg now, she resolve to perform umrah with all her grand-daughters - all sponsored, (like 3 grand daugters and 14 grandsons) once she had her left leg get bioniked too. So probably in Jan-feb 2009 she will go through another bionic operation on her left leg. Pray for her please. Amin. Insyaallah.

Going back to the HAJ. My best friend is so lucky to have been selected and given the VISA to perform his HAJ this year - Alhamdullillah. When he made the registration only early this yr. Abt 820 jemaah SG could not perform the HAJ due to the limited VISA. Always the same problem in SG - demand is more than the available VISAs.

I'm registering now for myself and my ratu for the Haj - insyaallah for the yr 2010. It is said that the cycle is minimum 3 yrs to 5 yrs.

So how lucky can my best friend be? We pray and hope that it will be fulfilled and our health is still intact. I heard that the pkg for the Haj now is very high...like mininum of SGD9 - 10k. hemm.. very high indeed. Baru angan2 nak bawa the kids too. Ok..Pray for me and my ratu to have the opp to perform the Haj soon - insyaallah. amin.

My kids had been asking for holiday trips to the middle east, to disneyland, to china to all the interesting places. My take...hemm..right now till our HAJ obligation is fulfilled - all vacation s are only to nearby locations - malaysia or indonesia. Once our obligation for the Haj is fulfilled I may consider bringing them on yearly trips to further away holiday.

But considering the economic crisis, must be prudent and be thrifty. But i agree on the notion that to combat the bad economy is to spend. hemm...conflicting info ha?

but for now - NO SUGAR IN OUR DISHES....NO KICHAP IN OUR DISHES TOO...just plain a pinch-of-salt. ha ha

waallahualam.

/dzan

Saturday, November 01, 2008

yang

Sayang:

yang kau curi adalah hati ku
yang kau usik adalah naluri ku
yang kau sentuh adalah jiwa ku
yang kau genggam adalah janji ku
yang kau gantung adalah nyawa ku
yang kau bisik adalah riwayat cinta ku

//yang terngiang adalah keberadaan aku dan kamu//

/dzan

Thursday, October 09, 2008

Liputan Aidilfitri Oct 2008

Salam Aidilfitri.

Sucikan Hati - kembali fitri. Maaf ber -ribu dari kami sekeluarga. Macam biasa sibuk memanjang.

Raya yg lepas tak sempat raya sbb outstation..balik cuma sehari dan petang raya bergegas ketanah orang. Tahun ni, raya sehari (lagi), sbb semua keluarga diSG kerja hari kedua dan anak2 dah mula periksa.

My ratu pun kerja - so no point to take leave. All dressed up but no where to go :-( Sbb tu putera, puteri and budi boring - though their cuti raya is like a week. :-)

Anyway, the highlight of the event of our raya was the eve. Tambah lagi, ada reporter buat laporan abt how we (johorean?) celebrate raya. It was published in Batam post :-). Read along if you are opened to Indonesian Language.

Anyway, sumpah I never lied abt my age. I did told him I'm 45 - but somehow, he put it 43..hemm.. perasan mudalah aku:



waallahualam. Maaf Lahir batin.

/dzan

Monday, September 29, 2008

my only princess is now officially a BLOG GIRL !!

Salam Ramadahn (still),

My one and only luvable 12 yr old princess is now officially a BLOG GIRL. YOU GO GIRL!!

hemm...is that good or bad? I sure hope it is gd. After learning her Blog Page http://pppputeri.blogspot.com/ , I went there. Gee...! it must be the father thinggy..cos...i luv her writing.

Ok..so I reminded her not to use too much of the short form - else she will develop that carelessness in writing like I do. I do hope she will not be the "suara-suara songsang". kena cekup ISA nanti kang.

Happy blogging GIRL!!

/dzan

Tuesday, September 16, 2008

i'm so lucky

Salam Ramadhan,
Someone saw my family pictures in my facebook and sent me a pte email: " You guys seems to be one happy Family!!!".

Frankly, I never thought of it that way because we are just living it daily. Alhamdullillah !! Though we acknowledge that nothing last forever, we are counting our blessing for this close proximity. I do wish and pray that many of you (all of you) are feeling the joy and happiness within yr home and that you'll find values in those comfort.

At times or everytime, when I thought I'm all alone and life is ever so meaningless (probably due to that mid-life crisis)..I began to see and feel how lucky I am and not to take things for granted.
This is a song describing my feeling of luv and joy.

My wonderful princes and princess introduced this song to us. And all these while, as I drive to work with my ratu back and forth - I've been telling her (and reminding myself) how blessed we are. Alhamdullillah.

So here goes: ( for some reason(s) I could not copy the embeded video into my blog...ahh)

/dzan

Sunday, August 31, 2008

bicara asyik

:hasan
aku bagai dirasuk tahyul kaum cina dibulan tujuh
sedang ramadhan datang merantai segala jenis iblis dan kuncunya

ketika bicara mu ku terima
yang mampu menerobos pemikir hati naluri penyair untuk jelata
termaktub dalam naskah kitab dini senja.

kita harus tebarkan kalam bersahaja
sebelum menular amuk senusantara
lalu terhenti bayangan kalimah mesra

aku asyik...berulang-ulang saat membaca

/dzan

Saturday, June 28, 2008

excuses

making excuses is like telling lies. you'll never know when to stop. After sometime, you can't see the thin lines between fact and fiction .

Tuesday, June 24, 2008

missing my princes and princess


I've been married for barely 15 yrs now. Blessed with 2 princes and 1 princess. I see the future in them. And yes the future starts now and with me (and my ratu) as parents. And I luv them dearly. So I never see letting my kids to be home-schooled. Let alone boarding-school.

I reckon that home-schooling takes away the social development and interaction from the child. And perhaps the competitive spirit that the child needs to pick-up from his freinds. No, weekend interaction is never enough. Just like weekend or seasonal (vacation) parenting.

Above that I've yet to meet any parents who can be a master on all subject fields available. Even a school with so many talented teaching staffs could not provide total exposure to the pupils. What more for people like you and me. So no , home schooling is OUT!!!

Besides, I want my kids to grow in the most natural environment today and that means I've to expose them to the "streets".

Boarding schools on the other hand are just too scary for me. Without elaborating, I don't need to be an expert to peek at the future. Considering that their spiritual and mental state will be in the hands of complete strangers i.e. their hostel mates and their teachers. Where do I begin to describe the future? Who can I blame if they ended up like the ummah today i.e blaming cultures and all the sort etc???.

Since young all my 3 kids sleep in the same room as us. And we grew and bond very well. Recently, I've re-renovated my master room. And all of the sudden, my eldest prince and my only princess decided to sleep in their own rooms. Good for them. Though I know that such time will come, why do I miss them miserably. And they are only 1 room away. hemm... Of course as a man I never show it, but I truly miss them. But certainly I'm letting them go and do feel good for their decision.

However, it makes me wonder everytime - how do you guys do it? i.e. Sending yr kids far-far away. Some at a very young age. And some parents I know are doctors, lawyers etc. Inspite of all the 1001 reasonings - what money or what intelligence can buy the lost time? Soon they will grow up, work far away, getting married and live far away.. and..the future? Another remote family....the ummah? Don't we have a choice at all on how and what should our family be? Or just another set of ummah defines by their friends and teachers? Phew!!

How do we account for the lost time? How do we justify that the only things that bond us are our biological-linkages and pure religious piety? Does it really work like that? Hemm...I don't want to find out too late. But instead I'm putting every effort to change the future by making my small steps with them today. If I die failing, at least I know I've tried. Or at least I know that we love each other by the constant and progressive efforts that we do for each other daily - not merely religious piety or biological linkages.

Am I crazy or what?

Wallahualam.

/dzan

Saturday, June 21, 2008

Bahagia Bersama Mu


aku tenang bersama mu
walau gejolak hidup sering beradu
walau kesempurnaan masih bertempur dijalan buntu
walau hanya sejengkal waktu

antara engkau dan aku
masih ada rindu dalam kalbu

jiwa ku menggapai bahagia
didalam keberadaan kamu
dibawah degupan sang rembulan
yang sering menjadi perasan
dalam gelap ada juga gemerlapan
dalam godaan ada juga peringatan
keinginan hidup bersama terus belarutan

syukurlah aku dalam nikmat Tuhan

engkau menjadi ratu ku
dalam tasbih berangkulan
dalam jernih syahadah keTuhanan
dalam rintih bermunajat kehidupan

kita sama-sama bahagia
didalam hidup bersuka-duka
walau kudrat terhad berupaya
cahaya mata adalah menjadi pelipur-lara

Alhamdullillah..
doa didalam sujud ku....

adalah aku terus tenang besama mu
adalah aku terus bahagia disamping mu
adalah kita berdampingan menjadi tua
didalam pandangan jarak cahaya-mata
dibawah naungan Tuhan senantiasa

dan kita sama-sama bahagia

// Happy 14th Wedding Anniversary my Ratu //

/dzan
June 2008

Sunday, January 20, 2008

my bonda oh my bonda

Life has a way with us - somehow. No matter how hard we try to escape from it. More often than not, we found ourselves entangled and get caught up in the in-betweens. And sometimes those matters are so dear to us - yet it would be better NOT said nor Done. And it haunt us like forever - lingering and causing us more and more hang-ups. And when that happens, the toll is just too much to bear.

Recently, I saw a drastic change of my bonda's attitude. While it is for the better, it also means that her days are numbered - so I'm thinking. And that makes me a little (a lot really) sad. It is like she is whispering to my ears that she will meet Allah S.W.T very soon. I'm so scared really. But I'm redha somehow.

She can't walk now. Me and my brother have just employed a maid for her. She seems content and very happy with the maid. Bad excuses for me and my sibbligs for not able to attend to her needs. But I'm glad that the maid that she picked is working out well. And just recently, she agreed to stay in my home - I mean in one of my houses that I'm not living.

That is a change really - for her especially. She has been a very strong and independent person. So she has always wanted to live in her own house. And now with her condition and with the maid to attend to her needs, she agrees to live in my house - while she rent her own place. That way I reasoned that my step-dad don't have to work for money but only for leisure. And my step dad is getting older (though he is 10 yrs younger than my bonda). I hope I'll give him the sense of working is no longer a mandatory. I do hope they can spend more time for leisure.

My heart cried yesterday nite, as I was thinking of her. Whatever the case is, I want my bonda to know and feel that she is well loved by her children. And by Allah's Grace, if her time is up, I do hope that she will go in peace and accepted by Allah for all her little or big deeds. And that she knows that we all luv her truly and we forgive her (if ever) for her misdeeds towards us. She is one woman I know who had made quantum leap progress in taking charge of her own life. And my principle in life is very much like her.

She will be going through a knee-cap operation next month. Though many such ops were successful, I have relatives who passed-away due to some complication after such simple surgery. I'm scared and I do pray and hope that she will go through this successfully. And that she will live longer for us to continue showering our love for her. InsyaAllah Amin.

I do hope you all pray for her well-being too. InsyaAllah. Amin

Praying for yr spritual advancement as I've wished you've prayed for mine. Insyaallah. Amin.

Here's a tribute to my beloved bonda and all other mothers.

May Allah Bless her always.

Friday, January 04, 2008

Thinking 2007

Peace,

2007 caught up with me rather fast. I could hardly catch my breath to appreciate it.

Personally, I could not possibly find solace in New Year celebration. I am not amused nor do I appreciate the "Auld Lang Syne" or other Happy New Year parties all over. But I suppose this global celebration is just too hard to deny.

So, 2007 had put me up against some heavy swings - half swings, full swings..and back into full circles of my life. Bringing me back and forth - in-betweens my younger days, my present and some near future. I saw myself in pains, sadness, happiness and of course disappointment too....all that pains of the past years ..but feeling it as a 3rd person during 2007. Funny right?

But overall ye, 2007 has been fulfilling and meaningful one.

Somehow, 2007 had me at my peak in term of my love life. I began to get that ever luv and tranquil feeling again - for my bonda after 3 yrs of losing it . That luv as i recalled somehow deminished btw 2003 till mid 2005 - due to external fitnah. But I'm so glad i started 2007 with luv and it continues.

Sometimes....I wonder why or how can anyone (few ppl) could possibly say..that I'm too good for this or for that?

Throughout my 43 years of human life, I've never remember running out of Luv - though I've had been falling Out-of-Luv many times. My ratu and kids seem to
get my attention by day. and I'm enjoying it.

My past luv(s) were nothing but memory without true feelings..bad ones are JUST silly memories while the good ones..just memories. And the current luv is ever so fulfilling.

Somewhere in march 2007 my bonda...could not walk. And now she is on wheel chair - pending for her decision to go for knee operation or not. Just heard the news this morning that she is willing to go through the operation. May she recover from it and no complication from the operation.

Then in June on the wheelchair, she (my bonda) brought 2 of my kids and 3 of other grandchildren of hers for ummrah. I was not sure..if i was worried for her or for the kids aged btw 9-12 yrs old. Since she was paying for everyone for the whole trip, how can I prevent her from going right?

Career wise, it was good. It started with a turmoil in the beginning of the year 2007...until I decided to take charge. And Alhamdullillah it picked-up by mid of the year. Hooray.

Ah..but Then..towards the end of the year, I missed my ratu and my kids miserably...on foreign land. Aidilfitri spending away and all.

All in all..I am happy with 2007. But it is far from over. I've yet to fulfill some of the list..so... am only closing 2007 in Feb 2008.

So what is my new year resolution?

1. to spread more influence for world peace and will NOT participate any talk, act or words (directly or otherwise) abt Hatred, War, disintegration or the like - by focusing on my own community -i.e myself and immediate FAMILY.

2. to remain a luving husband / father

3. to be a better muslim who uses the brain to think

4. exercise. get rid of my tummy..and be healthy

What I expect from others?

1. From all the girls/ women of my life (my ratu, my bonda, my princess, my sis:)

a. use more of their brains - be a thinker.
b. be my other set of eyes and ears
c. but some thought of things that affect others in their words and action.
d. assume more responsibilities and be accountable
e. discover their self-worth and add value to themselves.

2. from all the boys of my life:

a. as above
b. be a man.

3. from everyone

a. Stop complaining and don't wait for others to tell or do things for you. Do it yrself and take ownership.
b. Stop looking at caucasians (west) for measurement / benchmarks of happiness and success in life
c. Stop leaning on past successes. Move on by making history in changing our very own community -i.e. Family / destiny

But oh well, until then, I'm struggling for the closure of my 2007 !!! Waallahualam,

Wednesday, November 28, 2007

in a distance - playing sollitaire


my heart is deceiving me
leaving me all empty
at home it belongs to be
and in this cold distance
my thoughts are getting smaller
yet the emptiness is getting wilder

in despair
I'm playing sollitaire

and here is me
and there is thee
separated only by sight
in remote distant
yet closer within my heart and wisdom

summer did stopped by
autumn was a lullaby
and winter is alluring high
yet those smiles are cold
touching me in vulnerability untold
it is YOU I am longing to hold

timezone and ocean
alieniating my soul
season and distance
embracing our goal

and my love for you
forever behold


/dzan
Beijing - Nov 2007

Saturday, September 29, 2007

my recurring dreams

Salam Ramadhan,

I've been having these recurring dream.s..for almost 5 years now. It keeps on coming back.

In these dreams I've sensed and knew that all my life and everything I've owned is nothing but a dream - my job, my ratu, my house, my 2 princes and princess. Then I woke up in the middle of the nite... thinking and feeling that my life is truly a dream. Nothing is for real.

I've been wanting to pen this down, until I hear the song Innocence by Avril. Many thanks to my 11 yr old princess who is so into Avril.

Somehow this song describes exactly what I feel after waking up from my recurring dreams. So enjoy. :

Labels:

Friday, June 01, 2007

Lina Joy Saga - A Rhetorical Plot

May peace be upon you always.

Caveat : Before anything else, Let me just say that I am a very very RELUCTANT blogger. Gliding from Blog to Blog (or Blog Hopping) is Never my hobby. Getting others to agree with me is Not my interest. And increasing my Blog Rating is just so not me.

So here goes. The world is now mourning for LINA JOY - perhaps the Christiandom only (?). The muslims in Malaysia are Overjoyed(?) for the victory? What victory? Hemm...where are all these coming from and leading us too? So this is a religious battle? I'm not sure to laugh or not to laugh in witnessing, yet another rhetoric ploy of the media (local or international) and the blogging community. So I feel very much compelled to post this. Bummer!!!

By comparison, Lina Joy's story was not even close to the Nadra Tragedy that sparked riots in Singapore some many years ago - in the 1950s. If you have not read the real life story, get the book. I can lend you the book if you want. Contact me.

To say the least, I'm appalled by all these - either the Pro-Islamics or Anti-Islamic sentiments. Too many insinuations and the hidden agendas by all parties. And I am sure they are beaming with joy by their own handiwork of these rhetorical plots.

Let me see, to say that Lina Joy has no freedom to choose her faith is a Foul Cry. She certainly has been a christian and had changed her name for many years now and still living in Malaysia. And to get the court to change the NRD's long standing procedures - simply based on "compassion and freedom" is truly an Orchestrated Ploy. And now it becomes a political twist? And some say that the court should Not decide based on facts?

My Rhetorical Questions:

  1. What is exactly stopping Lina Joy from obtaining the legal document from Syariah Court that she has renounced ISLAM?
  2. Has she actually initiated that process and the Syariah Court has rejected her?
  3. Now who is crying wolf here?

Mind me, I am certain ( as a matter of fact) that if Lina Joy were to go through the process via the Syariah Court, it will Not be the 1st case where the Syariah Court will concede to a person who does NOT want to be a muslim. But the master mind of this rhetorical plot would not want this to happen - to expound and manipulate the issue further. Isn't it oblivious enough by the captions on the Media everywhere?

For the record, Islam does / will not gain or lose - whether or Not Lina Joy is a Muslim. The only person who will gain or lose is Lina Joy, herself. Since religion is a choice, and she has made that cautious choice, it is to her interest to get the document. (I still could not figure it out (already) why she chose the civil court to overrule NRD’s procedures – know so well that she could have done so via the Syariah Court.

If I don't know any better, someone is orchestrating this (perhaps by my own insinuation, Lina Joy herself is mastermind-ing this).

Here is my personal account many many years back (early 1980s):

  • I was in the army then. As fate had it, I was on 24 hrs stand-by duty and was in the camp operation room with a Malay officer ( I think he was a major). High ranking malay in the army back then, were rare. (at least in my country)
  • As our conversation progressed, he talked abt islam. But there were something amissed on what he had said about Islam. We went into circles until he told me that he was a Christian convert.
  • By then, I realised where all these were leading. So i asked him..why was he still holding a muslim name? (Note : By this time, whatever he said abt Islam did not matter to me anymore - since he was NOT a muslim.)
  • And so we got entangled into a heated discussion (not argument though). I certainly scrutinized him for bearing a Muslim name - when he was a proud CHRISTIAN? I pointed out to him that he MUST CHANGE TO A CHRISTIAN NAME immediately for the following reason(s):

1. Bearing a muslim name would only confuse his muslim friends / opponents - considering that he was all charged up to propagate his new set of beliefs. Very deceitful. Mind me, it is no co-incidental that most / some of the Indonesian Christian Bible, printed / translated the word GOD as ALLAH. Literally Allah means GOD.

2. Since religion is a personal choice, (though he was born into islam), it was only fair to the muslims or to the christians that he changed his name - allowing everybody to identify him from afar as a non-muslim. This would allow him to spread his new religion seamlessly.

Personally, I don't want any of my muslim family and / or friends to be duped and deceived by such individual. Believe me, I have no qualms on him (or anybody) wanting to be a Christian.

3. As a person who has decided to renounce ISLAM, he has also GIVEN UP his every right to talk or think FOR Islam. So none of his words abt islam - GOOD or BAD would hold any water. There would be no bearing what-so-ever.

Considering all these, and assuming that his case became a court battle and the court decided that he could keep his muslim name - HOW WOULD THAT MAKE ISLAM WIN OR LOSE???

Would Islam win or lose by the label he was holding? Would he lose his freedom - whether or not the court ruled in his favor? Would the Christiandom win Big?

My point is, stop the insinuation or any other theory craps behind this Lina Joy's verdict / saga. Shall we?

Or you would rather tell yourself that it is better to manipulate and duped others for your own rhetorical joy.

Waallahualam

/dzan

Saturday, May 12, 2007

time

yesterday
was a friend, a foe, and the in-betweens
I cry foul for every fall,
every failed attempts pushed me harder towards destiny

today
is a stranger, never friendlier
while getting acquainted to memories that weren't lost
I found myself in a corner
bolder and stronger - almost wiser!!

tomorrow
is not a distance away
separated only by the memories of yesterday and presumably today
bringing me closer to home
in between love - families and friends.
my despair is on sollitaire
my victory is when I've finally grasped the demeaning defeat

/dzan
may 2007

Tuesday, March 27, 2007

quotes of the day

"Super moms are like wonder woman. They only exist on a fictitious island. God knows where (?)"

"Super dads are like the cryptonite. It only exist to slow you down"

/dzan
March 2007

Sunday, March 04, 2007

my thoughts

my thoughts are sometimes words without precedence
most times they have no sequence
yet leading to unassuming consequences
but sometimes they are words of rebuttal of many other words

summing them up do not make a story
let alone a complete movie
and most times,
its meaning are pure rhetoric

i've written, you've read
i've thought you've sensed
perhaps ,
they are just pure non-sense

/dzan
mar 2007

puisi ku

puisi ku adalah makna kata
sering terungkap juga makna dalam rasa
yang ketawa susah
yang terdiam payah
yang tersusun kekadang indah
tapi yang tersindir
ertinya dimengerti menjadi padah
sebab segala andaian sering tersasar
direntangi nafsu selera bermaharaja-lela

aku menulis dengan hati
tiada seiring dengan naluri
mahu berakal pada budi
tiada menyetujui pada insani
kebatasan itu aku miliki
didalam diam aku mengakui

sebab minda, hati dan naluri sendiri
sering bukan bahan teka-teki
tiada ada larutan
sekadar rambang inspirasi

yang tersurat sudah banyak tersirat
yang sebati sudah menjadi kesumat
yang tergugat hendaknya memberi hormat
yang berkarya punya hak dan peribadi
antara mengerti dan kehilangan bistari
akan dibawa keperut bumi

menunding bila hidup terasa dipinggir
bergegarlah langit sampai bumi menjadi kwatir

/dzan
mar 2007

Saturday, March 03, 2007

jangan

puji bukan menjadi tinggi
yang terendah adalah pekerti
mengerti cuma makna
dalam erti memberi hina
bukan cuma-cuma
sekadar dari rasa binasa

bila terlantun dipuji
jadi dengki
bila tersembam dihina
jadi merana
bila sendiri yang rasa
terpancar selainnya mula dicerca

yang tertinggal adalah kata-kata
dusta

/dzan
mar 07

Wednesday, December 27, 2006

soalan buta

saat engkau mencari
mendongak kelangit tinggi
yang terlihat cuma kepulan awan

Tuhan ada disisi
kenapa sampai menghilang diri?

buta, cuma hilang gambar
cahaya, cuma kilauan pandang
dihadapan masih berteka
dibelakang masih tertanya
antara depan dan belakang
ada kita

terpisah kita dari noda
adalah pandangan
terhenti kita dari nista
adalah hasrat

selainnya cuma
retorikal bicara
alasan tiada harga

/dzan
dec 2006

Wednesday, November 15, 2006

beraya sakan aku

beraya sakan aku
saban malam memashurkan pencipta bulan
yang melengkapkan segala kejadian
aku dalam melaungkan sebuah nama GAH
memperhalusi setiap rangkap indah
lalu menitis basah
diriba hati yang semakin rendah
mengelilingi lelaman tetangga
meratapi bahasa keampunan yang tiada lagi bersembunyi
begitu asli sampai jadi rapi
sedondon tersusun jemari kerdil
meratap hidup menjadi adil

beraya sakan aku
sebesar harinya
serawan hatinya
mandiri dalam sekawan
mengimbangi niat ku nan perawan

beraya sakan aku

/dzan
Nov 2006

PS: Salam Akhir Hari Raya! Maaf Lahir Bathin.
Semoga ketemu lagi

Thursday, November 09, 2006

apalah aku seorang ayah

apalah aku seorang ayah
tiada mampu
menyempurnakan hayat mu
malah jasad terjadi belengu
saat sendu bertalu mendampingi mu

apalah aku menjadi ayah
tiada mampu berganti nyawa
malah menjadi saksi
engkau bersabung nyawa
mengundang pilu dalam hati bertubi-tubi

apalah aku menjadi ayah
termampu cuma
menyiram tubuh kujur mu
yang kini kaku nan beku
hati ini benar-benar pilu

apalah aku seorang ayah
menguburi anaknya sendiri
terpilu dalam syahdu aku terintih

apakah wajar
aku seorang ayah
mengkebumi anak sendiri

//semoga syurga tempat mu pasti//

/dzan
Nov 2006

Saturday, November 04, 2006

keponakan ku telah pergi

keponakan ku telah pergi
sejak 13 tahun dulu lagi
tapi kini nafasnya benar-benar terhenti
airmata ku mengalir tak putus meniti
merentaskan aku kealam sana
merangkum kisah suka duka

//antara bulan dan matahari
tiada bintang yang mementingkan diri//

keponakan ku telah mati
kini dia benar-benar pergi
dalam diam diri meratapi
terasa hidup cuma sekali
malahan mati bertubi-tubi

keponakan ku pergi kealam sendiri
menjamah tanah yang melekat bibir
berselimutkan kain kapas memutih
tiada dosa dibungkus kembali
tatkala menghadap Pencipta izati
matinya tiada lagi sendiri

Tuhan
keponakan ku menyambut panggilan pasti
Engkaulah yang lebih mengasihi
kami meredhai pemergian ini
Janganlah putus merahmati
pada keponakan ku yang kini pergi

//lalu kami yang tinggal kini
ada insaf sebelum mati//

/dzan
Nov 2006

in Luving memory of:

AHMAD SAFWAN BIN PERWIRA
May 1993- Nov 2006
Condition Leading to Death:
a. Bronchopneumonia
b. Cerebral Palsy
c. Post-Hyperpyrexia Cerebral Athophy

Friday, November 03, 2006

jangan

jangan mendongak kelangit tinggi
nanti terlupa rumput dibumi
jangan merenung bulan purnama
nanti terasa bumi tak sempurna
jangan memuja bintang diawan
nanti terluka hati nan rawan
jangan bersangka hidup indah dipersadaran
nanti terasa pahit dalam kematian

/dzan
Nov 2006

Monday, October 16, 2006

witir

witir mu seribu muslihat
dalam waktu hening bermukjizat
yang singgah cuma laknat menjadi pelekat
dan tatkala bumi mencecah bibir
akan bersuara...

//bukan bumi yang maha memberi//

/dzan
oct 2006

Friday, October 13, 2006

waktu-waktu begini

waktu-waktu begini
cinta ku terlarang
berahi ku terhalang
terdaya cuma menjamah sebiji kurma
yang mampu memberi kuasa
menambahkan sirat berkhasiat
memberi zat yang menguatkan semangat
mengingat pada segala Qudrat

waktu-waktu begini
hati ku menjadi tabah
amarah ku tiada lagi gundah
sahabat dan kerabat ku
adalah teman paling akrab
kasih ku berganti azimat paling mustajab

waktu-waktu begini
aku banyak meminta
biar perjalanan kembali fitri
dalam niat menjadi putih
bersih lagi memutih

waktu-waktu beginilah
tertekan aku pada rindu
jauh bersama ayah-ibu

/dzan
Oct 2006

Tuesday, October 03, 2006

setan

setan telah lama menjadi manusia
bebas dari berlenggu
membidas dan memburu nafsu
yang tiada pernah lesu
mengundang para seteru

setan tiada pernah bersembunyi
manusia lah yang sering mencari
kebinasaan yang tiada bermisteri

setan, antara ada dan tiada
manusia, antara tiada dalam berada

/dzan
ramadhan 2006

Friday, August 04, 2006

bah dan airmata

sekali air bah
sekali pantai berubah
kampung halaman ku jadi musnah
sedang jiran-jiran ku masih tiada melonjak minda
kebodohan masih di megah-megah

air mata datang percuma
dijadikan hantaran untuk sang Raja
yang mahu beristerikan sang Puteri
jauh dipelusuk dipergunungan tinggi

apa kena mengenanya dengan kami?

/dzan
aug 2006

Thursday, August 03, 2006

happiness

happiness is
when you are contented with what you have
when you feel good with what you don't have
and when you are able to bring joy to others
even to a stranger

/dzan
aug 2006

Tuesday, August 01, 2006

bosan dan benci

menjadi aku terhempas-pulas malas bergegas
pada semua sahutan yang tiada kesampaian

disidang akhbar
memberita pekong didada
dicorong radio
terlaung fitnah berleluasa
dilayar TV
termaterai imiginasi kekejaman manusia

mampukah manusia berhemah?

entah aku kah yang lemah
atau mereka kah yang gagah
kecundang juga dalam gelombang arus
hidup yang seharusnya mulus
menjadi lolos kian terhapus

aku mula bosan bertukar hairan
aku mula benci menjadi jijik
mengenal pasti kesudahannya biarlah mati

aku tak mampu mendengar lagi
kisah dongeng ketelanjangan
cerita purba berperangan
hikayat dusta menjana benteng berkasta

/dzan
aug 2006

Sunday, July 09, 2006

mood swings

i am in the mood for change
flipping my life back and forth
flashing before me
everything explained
answering only to God
while others understand what's naught

transgressing myself for honour
only to rediscover me in a corner
the walls spoke to me
//hey you...remember Thee//

And so, here are my mood swings:

1. in the mood for the world cup? Clik Here
2. n the mood for luv, are you? Click Here
3. in the mood for heartbreaking luv? (but I am NOT!!!) Click Here

/dzan
july 2006

Monday, July 03, 2006

ayah dan hang tuah

ayah sekadar sebuah nama
punya rupa
tapi sunyi tanpa kata
perginya entah bila
pulang nya tak pernah ada

kalau mati
mana kuburnya?
kalau hidup
mana hadirnya?
apakah sang ayah
jelmaan hang tuah?
bakal hadir cuma
bila taming sari timbul dari muara.

kini aku sendiri menjadi ayah
suara dan laku menjadi perindu
tiada mereka berlari
ke gerobok takut menyembunyi
malah merangkul berpelukan lagi
berseloroh berkucupan mesti.

hilang segala rindu resah
apabila aku dipanggil ayah

/dzan
July 2006

Wednesday, June 28, 2006

peta

peta ku tercemar
oleh tumpahan kopi
kabur

kompas ku retak
utara ku menjadi rosak
berselerak

hanya bintang tak kunjung datang
sebab hari masih siang

/dzan
june 2006

Thursday, June 22, 2006

kerana benang

benang jadi kusut
tiada dapat dilurut
hati jadi kalut
tiada dapat diturut

berlinang airmata
meleleh melebih-lebih
sesampai jadi banjir

itulah.....
sekali air bah
sekali juga pantai berubah
tapi yang punah
adalah masyarakat jadi rebah
wal hasil...
hidup tak berubah-ubah
segalanya hilang maruah

hanya kerana...
benang jadi kusut
tiada dapat dilurut

/dzan
june 2006

gelita dan teman

saat gelita
nyalakan pelita hati
hidup bakal diterangi

saat sendiri
hidupkan rasa ingat pada Tuhan
hidup tak akan kesunyian

/dzan
june 2006

saat diri gundah

bila hati gundah
congak kelangit gelap
lihat bintang yang berkelipan
ada cahaya matahari memancar
ada bulan yang meneman
ada Tuhan yang menjadikan

lantas lihat lagi pada diri
akan terlihat bayang-bayang diperigi
adalah kita yang memerangi
adalah pedih mengaburi

lalu apakah bulan itu tuli?
tak perasan kita sendiri
atau sememangnya
adalah diri tak terlihat lagi

/dzanjune 2006

Tuesday, June 20, 2006

kehulu-kehilir

kehulu tidak aku kehilangan
kehilir bukan aku keraguan
mengharap sahabat berpanjangan
mendorong sama kearah kemajuan

pantun sahabat

membubuh garam diluka bernanah
menular pekong mencengkam berbisa
hidup nan karam dikandung amarah
mengharap untung tak kunjung jua

kerlipan bintang menjulang arah
kompas nan pecah berpulang jua
pelita benderang hati meredha
matlamat terserlah jalanan teruja

bertaut aur mengkukuhi tebing
mengalir arus sempadan berbukit
sahabat nan akur berjabat seiring
menempah firdaus semangat berbangkit

/dzan
june 2006

Sunday, June 18, 2006

bagaimana

bagaimana dapat ku simpan airmata
menitis pun ia tiada rela
telah hilang bersama angin pilu
yang cuma terpedih dalam merindu
badai tak ku gentar
esok akan terus tercabar

/dzan
june 2006

Monday, June 12, 2006

roh ku

gundah dan gusar
tak akan pernah hilang
walau lewat mu sudah terbilang

jawapan pada soalan ada
cuma gementar yang sering berkuasa
hadir, bukan cuma-cuma
pergi, meninggalkan raga

entah kiri, entah kanan
jalan lurus yang ku idamkan
masih kabur dari pandangan

roh, jangan kau tinggalkan
jasad, jangan pula dipersimpangan

/dzan
june 2006

Friday, June 02, 2006

gabra

petanda hitam dipenghujung baris
bukan noktah yang mengakhir
sekadar imbuhan bertitik-tolak
pada alam yang berputar
dalam hidup yang berlingkar

onak, duri, simpang, liku
tepuk, tari, nanyian, rindu
jelas, hati, minda, keliru
langkah, seliuh, wawasan, kelabu

lalu kita
terangguk pada angin menderu
bersetuju akan bicara enggang
kerana auranya
kerana gagahnya
kerana hebatnya ia melayang
terpipis lada pada sang helang
terlupa ingat pada sang musang

aku gabra
berkelip-kelip dimata
berdebar-debar dihati
beringat-ingat dalam diri

/dzan
june 2006

Tuesday, May 23, 2006

terburu

terburu-buru
engkau memburu dalam waktu
bergegas dalam rindu
kita yang masih belajar mencari
hilang kesempatan mengadu kasih

pedih berputih mata
kasih kita bercambah diatas pasir gembur
kini terlerai bersama angin sepoi
dalam buih-buih kecil
hanyut bersama arus ombak putih
tak sesempat tulang ku memutih

janji, cuma tinggal diengkari
cinta, cuma bersua dipersimpangan masa
waktu, cuma sejengkal
mengungkal fitrah mengakal

belum sempat teruji
belum sempat teruja
malah terus rapuh
meruntuh sifat sabar
menggelabah aku mengalah
membangkit amarah gundah

yang sebenarnya aku pilu
sepilu-pilunya dalam sendu

/dzan
may 2006

Tuesday, May 09, 2006

waktu

berdepan dengan waktu
ku godam rasa rindu
ku pintal-pintal menjadi ilmu
menyelongkar cinta putih
memertabat insan bersih
ku hitung tiap keringatnya yang merintih

sesampailah keberadaan...ada aku

dipenghujung, dipenghilir
benih dalam darah-daging lama mengalir
bertiup segala zat
bersemangat segala adat
akur dengan kewujudan
hanyalah sekadar angka yang melata didunia

kini
berdepan lagi dengan waktu
dunia mengistiharkan hari
insan bersih diberi puji
tapi kenapa kasih bertaut pada suatu tarikh?
sedang bakti murni berpanjangan tiada berakhir

//selamat hari ibu//

/dzan
may 2006

Sunday, May 07, 2006

saat

saat kau minta bintang
kau tahu ke awan pun tak mampu dijulang
saat kau minta bulan
kau tahu cahayanya pun tak mampu dipegang
saat kau minta matahari
kau tahu kehangatan tubuh nya pun
tiada mampu mencairkan air-beku

dialah yang piatu
tiada pernah ada tempat mengadu rindu

bulan, bintang dan matahari
tak pernah mengindahkan diri
apa lagi langit dan bumi
seakan menginjak tubuh kerdil itu
segalanya telah mengasingkan diri

kini segalanya dipertonton
pepohon api-api mula menular
membakar dahanan nan repuh
lalu cinta mika pun kian lumpuh

saat itulah kau minta mika berbicara
apalah yang dapat di kata
selain cinta nan jauh
yang tiada pernah akan roboh

/dzan
may 2006

Wednesday, May 03, 2006

ada

ada kata hilang makna
ada lidah hilang selera
ada hati hilang rasa
ada akal hilang pertimbangan

dimana jalan?
dimana kepastian?
dimana kesudahan?

kalau aku menyerkap-jarang
angin panas yang terus menerawang
atau pun ku kutip api
yang melungsur menari
apakah ada angin dapat ku simpan dari melayang
mahukah api sekadar menyinari
atau terus membakari
sampai jadi abu

justru akan ada bukti
bahawa tiap apa
ada ketentuan dan kesinambungannya

/dzan
april 2006

Sunday, April 30, 2006

makna hilang, ketawa, gembira, benar

hilang:
akan berganti rugi bila bumi dipijak tiada jati
terasa kosong bila teman dikasihi mula pergi
semakin sempit bila arah hidup mengaburi

ketawa:
cuma suara gembira yang sering tiada makna
sering terkeliru antara bahagia dan gembira
mentertawakan dan diketawakan sering tiada beza

bahagia:
hadir cuma-cuma dalam waktu seketika
tiada mudah digapai tanpa usaha
wang dan harta sering merosakkan nilai jitu nya

benar:
kehadirannya tak dapat disangkal walau benci menerima
terkandung nikmat tatkala jitu melaksanakannya
memberi makna bagi diri yang mahu merangkulnya

/dzan
april 2006

Saturday, April 29, 2006

makna sepi, jauh, jarak dan beza

sepi:
engkau berlari-lari jauh bila aku ingin mendengarkan suara sunyi
bila aku ingin menggapai hidup sendiri dalam pesta sehari-hari
engkau lah yang aku tercari-cari

jauh:
kita terpisah sekadar dari jarak mata, budaya dan selera
kita bertengkar dalam jurang yang berhaliluman sementara
kejauhanlah yang menyatukan kita

jarak:
mengukur mu adalah kerja sia-sia bila hati merasa cinta
membendong mu adalah garis-garis luka menularkan rasa hiba
engkaulah paling berharga bila jarak kita cuma sedepa

beza:
adalah ketara dari jenis darah dalam tubuh kita
adalah sama dalam bentuk harga mencari cinta bahagia
adalah sebenarnya matlamat persamaan hidup bersahaya

/dzan
april 2006

membaling batu sembunyi tangan

membaling batu ditangan
apakah itu dibilang pahlawan?
bila tangan itu disembunyikan
bila tangan itu yang merosakkan

tangan itu menjadi kuasa
tangan itu membentuk rupa
tangan itu membolot harta
tangan itulah menempah nama dusta
mengolah falsafat nyawa
melumat nilai warga

membaling batu sembunyi tangan
apakah itu dibilang pahlawan?

/dzan
April 2006

Saturday, April 22, 2006

doa mu bonda

bonda
doa mu masih segar
walau tegar lagi tangan manusia yang melumpuri
buaian yang pernah kau hayun
mencambah fitnah bernanah
tentang hati mu yang luhur
tentang suara mu yang kian luntur

yang terdahulunya purba
kini adalah wadah selera sementara
diatas nama seni indah
diatas usaha kepingan dollar
di atas kebebasan maruah
MAJU lah kira nya (?)

yang berpakaian indah
dibilang arabi
bukan lagi bangsa terperi
dibilang dungu menilai insani
dibilang ilmu secetek perigi

anak-anak mu
mahu berhijrah minda
dari barat, dari timur tengah
melantun jauh merata negeri-negeri ini
bermukim ke suatu benua Allah
dimana MARUAH adalah
tunggak tamadun manusia

/dzan
april 2006

Tuesday, April 18, 2006

setolol-tolol ide

bukan pilihan kata
bukan abjad-abjad konsonan
bukan pula pada susunan ayat-ayat 'POWER'

cuba buangkan makna
sekadar kutip seni selera
kita tambahkan lancang berbicara

yang tertinggal cuma ketawa
retorikal bercerita selamba
setolol-tolol ide

//aduh, si luncai terjun dengan labunya//

/dzan
april 2006

mengenang perang teluk pertama

aku pernah digua IRAQ
mencelah diterowong-terowong hitam
yang digali oleh hujan asing nan kejam
berdentum
berdentam
sepanjang siang
tak terkira malam

bukan tempat bermunawarah
bukan medan beristiharah

dari jendela al-jaheerah
terlihat indah
mercun dan bunga api menari-menari
hati tak terperi

didataran peta nyata tiada rata
ternyata telinga
terlihat mata
tercampak kepala
berkecai remuk rasa

tapi aku nekad
memungut semangat bangsa
walau sebenarnya aku tak kuasa

/dzan
april 2006

Sunday, April 16, 2006

berkaca dan bercermin

yang berkaca
memperlihatkan mereka
yang bercermin
membuka perisian diri

/dzan
april 2006

ikan

ikan dalam air
hilang nafasnya
lemas matinya

ikan dalam keroncong
langsung tak berguna

/dzan
april 2006

bangsa

bangsa terbilang
bangsa tunggu dibilang
bangsa telah hilang
didataran emas tanah orang
kini menjadi hamba-hamba nan sumbang
tapi diri terasa terjulang

dalam suara, tiada
dalam minda, berperca
dalam khayalan, selamanya
dalam kuasa, terlupa

/dzan
april 2006

Friday, April 14, 2006

sigai

aku sigai kelangit tujuh
agar tiada roboh
segala panji dan janji-janji
dalam perjalanan aku kembali
supaya dapat aku merentangi
mengimbangi diri diatas titi
dalam tiap baris ilmu-ilmu terkini
dipenghimpunan khutub-khanah pasti
melangkah dipenggarisan lurus
yang kian bengkok atau pun pupus

bukan bodoh
bukan sombong
bukan bodoh-sombong
bukan lagak
bukan pandai
bukan lagak-pandai

sekadar kecintaan dalam keberadaan
yang aku dikurniakan akal
mampu menggapai awan

/dzan
april 2006

Tuesday, April 11, 2006

riwayat kodok naik kejunjung

riwayat kodok naik kejunjung
kerajaannya
sekadar dibawah tempurung
terlungkup tempurung menjadi redup
dalam redup teraba-raba
terbuka tempurung menjadi murung
dalam murung berkilauan cahaya
tak terlihat dihadapan mata
namun perasan celik khazanah dunia

riwayat kodok naik kejunjung
bila berarak minta dipuja
anak dara mahu dikucupnya
ketagihan cinta kasih nak dara
terperi berharap menjadi putera sempurna
malang kudis disisik tak terlihat jua

riwayat kodok naik kejunjung
membuat ramai yang melopong
membikin fikiran terpinga-pinga
terkinja-kinja melawan fitrahnya
terpenyek dilanggar lori
dibunting oleh anak-anak sendiri

riwayat kodok naik kejunjung
kepintaran dalam terpinga
tatkala kain yang dikoyaknya
mahir disembunyikan bunyinya

/dzan
april 2006

Friday, April 07, 2006

gugup

sekaligus terserlah
kebodohan yang langsung
bersekutu dengan keangkuhan

aku jadi gugup tertunduk
memberi lalu
bisu dan kaku, bersorak
lalu aku berdiri bertepuk

anak-anak punai juga turut berangguk

//aku menjauh dari melebuh-lebuh bagai buntal ditiup//

/dzan
april 2006

Monday, April 03, 2006

aku menunggui mu

gerimis telah lama pergi
ku sandarkan harapan pada sang hujan
menanti, tapi lama tak kemari

ya.. terasa dingin sekali

aduh
tempayan telah ku pecahkan
air tiada dapat ku tadahkan
bagaimana dapat menyambung kehidupan?
apakah kemarau akan berpanjangan?

engkau mahu pergi?
habis...
siapa yang bakal mendalangi?
tempat ini, ruang ini, isi hati

//aku menunggui mu disini//

/dzan
march 2006

Friday, March 31, 2006

bunyinya suara bukan mimik arab

bunyinya suara
aku keliru
bunyinya nada
menggetarkan aku
bunyinya hujah bercelaru

bukan aku berARAB
malah berADAB
bukan aku berTAKSUB
malah tak SANGGUP...
menyambung tamadun telanjang
menjunjung minda yang diamnya digua

kenapa tiada pernah pelajari
mengukur baju ditubuh sendiri
malah dibilang keren lagi
layak matsaleh (bule) yang rakus membayar beribu
melihat anak-anak isteri ku gebu

aku wariskan ilmu
kau simpan baik-baik
mempermolek jangan memperlekeh
nilai SENI hidup jitu
bukan pada ketelanjangan anak bangsa ku
tapi dalam hikmah yang masih engkau terkeliru

/dzan
march 2006

Monday, March 20, 2006

sebenarnya apa?

sebenarnya siapakah yang menghitung
sebenarnya apakah yang dihitung
terfikirkah usia tak larat dibendung
suatu angka pendek yang sering gemersik
rasa kaku dan pilu membelenggu
bila berada dipermukaan pintu

rindu tak terlarat ku sebut
nama telah puas ku tutur
hidup menjadi kelam-kabut
diantara aturan tiada gaya

//ENGKAUkah pengaruh bersahaya?//

sebenarnya aku belum meraih
segala apa dari kegagalan dan kehancuran
sebenarnya aku mahu menjulang hidup
dalam kekalahan dan kepayahan nan rapuh

sebenarnya aku lagi rindu melulu
pada ENGKAU dalam syahdu

rangkuli aku

/dzan
march 2006

Wednesday, March 08, 2006

sang TUAN, Engkau dan aku

aduh cinta
engkau kah yang serbu menyapa
bertandang bagai yang tipis melayang
berputar bagai yang bulat bergolek

kenapa pelangi yang kau kejar
dihujung situ
tiada harta bak dongeng cerita legenda
akurlah

kenapa kau mahu juga mempersembah
pada aku yang tiada apanya
pada wajah nan biasa
pada hati nan rendah
pada hidup nan alpa

sang TUAN tidak menyimpan hati ku
sang TUAN sering merestui hidup ku
sedangkan ENGKAU bercumbulah
pada DIA senantiasa

pada AKU
engkau akan merasa jemu

/dzan
8 Mar 2006

Tuesday, March 07, 2006

pantun agama : 4, 5, 6 kerat

kendati berat dipikul kerbau
dicucuk hidung kemana pergi
sekiranya qudrat Tuhan melampau
nescaya lemah insan mengengkari

badai menghempas memberi isyarat
terhapus nyawa bergelimpangan derita
hidup ku lemas dek harta nan sarat
dosa berkoyan keampunan tak terminta
malah bermegah diri sempurna

kalimah ditutur kelat bunyinya
anak jawa berbahasa melayu
sekiranya insan bertikam sempurna
tak akan damai datang bertamu
tersembunyilah ikhsan tiada jitunya
ternampak udang bersembunyi di batu

/dzan
mar 2006

Thursday, March 02, 2006

engkau tak kenal aku

engkau tak kenal aku
yang berfikir dengan tangan dan kaki
yang berhemat dengan mata dan hati
yang pakai otak mengadun rasa
yang beringat dirilah yang hina
yang tak mahu bergabung mencela
yang tak yakin berhujah mendoa malapetaka

yang aku, kita dan mereka
bukanlah manusia sempurna

engkaulah yang tak kenal aku.

jangan biarkan tempayan pecah
sebelum air langit sempat mencurah
sebelum tumpahan air dijamah
sebelum menghilang dahaga manusia
sebelum punah harapan bernyawa
tak kiralah bulu, darjat ataupun kasta

engkaulah tak kenal aku
ataupun sememangnya
engkaulah tiada mengambil tahu

/dzan
2 mar 2006

Wednesday, February 22, 2006

I was once a kid

I was once a kid
slurping my ice-cream
and received the scolding for drooling
on the floor, on the table, on the chair
and everywhere

I was once a kid
whose thoughts so desperately
bursting to be heard
only to be sent away from my own herd

I was once a kid
mother where are you
father don't walk away too
your luv, your attention and your understanding
are pillars of my soul
spirit to my goals
my confidence, my tolerence
my compassion for humanity will be unfold

but why am i standing alone in a ball?

I was once a kid
yet I've misunderstood my own

/dzan

Saturday, February 04, 2006

selembar benang

selembar benang panjang
ku lurut-lurut, ku kait-kait
menjadi jala ku buat kelambu
menghalang para serangga

ku buat selimut menghangat tubuh munggil
ku buat langit-langit menjadi peneduh

selembar benang menggantung nyawa ku
selembar benang penyambung hayat ku

/dzan
feb 2006

Thursday, February 02, 2006

aku berfikir

aku berfikir dengan kaki
terinjak-injak bila ilham mendalangi
terkinja-kinja tatkala hati berpinar

aku berkifir dengan kaki
berlari-lari anak mencari erti
jalan hadapan, jalan berlakang
berpusar kemari dan pergi
aku masih berfikir dengan kaki
tak tahu kemana arah membawa pergi

/dzan
feb 2006

Friday, January 20, 2006

melantun

melantun jauh dari persisi
mendambar suatu wajah
ayu, manis dan ramah

punya cerita
suatu tubuh munggil
mengghairah

germersik suara mengusik
mengkhabar seribu suara
membangkit seribu rasa

ingin yang mendingin
mahu yang kuat melulu

jauh aku melantun
tersedar cuma disini adanya

/dzan
jan 2006

Friday, January 06, 2006

persoalan

aku suka pada persoalan
yang matinya tiada mahu
hidupnya terasa malu
ketentuannya tiada reda diterima melulu
malah bercelaru

nasib tiada berputar
tapi hati yang sering tercakar
minda yang terus tersasar
tergugat oleh perasaan
tercabar oleh kenyataan

takdir adalah suatu sejarah lalu

yang ketawa, yang menangis
yang sering tiada dapat ditepis
sebab edaran waktu menderas sinis

yang dihadapan cumalah hala-tuju
yang kita memang punya kuasa menentu

janganlah hanya tersedar
setelah bersatu dengan dungu

/dzan
jan 2006

Thursday, January 05, 2006

senja dan airmata

senja bermerah mata
curiga pada suria
yang sering terik membakar
apakah bumi tiada cukup mekar?

bersoal pada ribut
tak terjawab
kenapa terus meranap?
puaskah melahap

berdebat dengan awan kelabu
sering mencucur sayu
sesinggah hujan dipermukaan
meruntuh hartanah dan kejadian
dimanakah kesudahan

berhitung pada manusia
kenapa menambah angkara
berlarutan segala durjana
tiada puaskah melihat sengsara
menambah gejala alam-semesta

senja bermerah mata
tak tersedar berlinangan airmata

/dzan
jan 2006

aku dan TUAN

kata ini, tiada rapi tersusun
gerak tari, tiada jua indah beralun
tiada syair, tiada kias berpantun

hanya pada mu TUAN
aku rebah bermohon
engkau redhakanlah
memberi segala ampun

jangan dosa ku dikais
khilaf, izinkan aku sempat berpilis
musibah jauh ditepis
gundah sempat ditangkis

TUAN
berkali aku terpilik
nada MU datang mendidik
aku terinsaf
aku makhluk daif semakin celik

/dzan
Jan 2006

Wednesday, January 04, 2006

I challenge the education system : Elephant never forgets

Assalamualaikum Everyone,

This is a long one...but i think, it is abt time for i've been wanting to share.

I Challenge the Education System.
Indeed I am and had been for the past many years - as long as I can remember during my school days. Though I must admit that I enjoyed my school days all my life and wanting to excel the best I can be and had become. But I've never stopped challenging the education system I've gone through. Nah..am not that scholars material and am not being a SOUR GRADE either.
Not surprisingly, this is among the reasons why I've chosen to move my kids away from the kind of education system i used to have - though from where I came from (SG), the education system had been proven to be the "best" in its own right within this region - and still is, I say.
But I've decided to move anyway, because, it was very much RESULT / GRADE focus - stiffling the mind and made a person very rigid and non-adventourous in life (but this is changing now...)

That was among my biggest worries for my next generation - apart for having a well-balanced secular and religious education.

Unfortunately, I did not investigate further on the education system in Malaysia. I truly thought that it was totally different. During my search then, I was too engrossed on having a good mix (integrated) of religious and secular studies - not understanding the full focus of the curricullum in malaysia - that are VERY VERY MUCH LIKE once SINGAPORE used to be.

When i was going through my kids homework and curricullum for the past 2-3 yrs...i thought to my self OH MY GOD...what kind of crab are these? YUP! CRABS!.
I could not believe even the things that were emphasized by the KINDY of my prince Budi. it was so much DRILLING and RESULT focused. and I am totally in doubt on the real teaching method being done.
His math was NOT focus on the mathematical CONCEPTs but purely DRILLING with 4 digits numbers on addition, subtraction and multiplication - so many HOMEWORK daily of the sort. At K1 and K2 LEVEL? What are they trying to achive?
Looking at my prince putera and princess puteri sysllabus, does not help either. I've failed to see the fundamental CONCEPTS / VALUEs of education being thaught on the subjects.

WHAT HAVE I DONE to my kids? I keep on asking myself that now.

Looking at sg now, surprisingly and fortunately though, singapore has move away (or still in the transition for the past 2-3 yrs) from this result focus.

Yes, having good result is important, but the methodology / approach in providing a well rounded education is becoming apparent. If anything I could wish for malaysia to follow singapore - THIS WILL BE IT...and ADOPT IT FAST - the education system. But who am I ha?

My ratu who is leading the Maths curricullum in her schools and the northern schools in sg had done quite a great contribution / efforts towards that - moving away from purely academic focus. I am rather please / proud to see that development.

But i will not revert my kids there, because, I need them to have that daily religious and secular studies through out their life - possibly until they go to universitites (though my prince putera had been telling me that he wants to go to NUS or NTU in Singapore - and I have trying to "convince" him to MIT, OXFORD or even CAMBRIDGE..ha aha ha)

My point is, I'm quite (maybe very) baffled / dissapointed that malaysia is still focusing on GOOD GRADEs and thus not providing the well-balanced and all-rounded kind of education. Even the religious studies are still focus on brained power. Looking at the society in malaysia now, it's NO WONDER - NO BRAINEER.

It becomes too apparent how we (the society) as adult, judge others or how others judge us. Sadly, it is not for the value of life we have or projected, but the kind of materials and academic success we have achieved. That to me is so UTTERLY STUPID! STUPID! STUPID!

Not sad? I am ..because we are grooming our kids towards the ELEPHANT NEVER FORGETs syndrome (my own theory) - i.e. good in brain power, successful in life for able to do that 1001 tricks in the circus, able to please everyone and attract the attention, but in the elephant's mind, he / she could NOT BREAK the TINY shackle that ties his / her leg.
In actual fact, it is the mind that is binding them - not the shackles. THe elephant is so afraid to even try to break it, becuase it remembers his / her youngers days of education.

Sometimes, I questioned myself why bother of runnning away fr sg (hijrah as prescribed by islam to break the vicious cycles) when I ended up exactly where i wanted to escape from. (and i've yet to voice my discontentment of being OVERCHARGED all the time in here) Phew!!!

Certainly, I do challenge the BOARDING SCHOOLs too. Last year alone, i've had many very interesting discussion with many friends and even elderly men abt it..which left them jaw-dropping after explaining to them on why is it not useful to the society. Most / all of them, just replied, " i never thought that your arguments / reasons are so valid, up till now. and i agree with u".

Ya, i do challenge the HOME SCHOOL too, because, in that, our benchmarks and focus will be still be on the RESULTS / GRADES/ RESULT..and the teaching methodology lacks of a well balance EQ, social interaction and social competitiveness amongs our kids.
One can never provide that well-balanced education for yr kids if you are doing it alone - even if you are the world brainest teacher. The fact is, you need a CONSORTIVE efforts to provide that enivironment.
We need other kids in that teaching environment for them to PLAY, LEARN, FIGHT, COMPETE, INTERACT, ADAPT etc - throughout that LEARNING PROCESS and not on weekends or seasonal periods. Possible with other races and religion too, and not like the so called "homegeous" society in US or EUROPE.

Ok, I've said my piece. You don't have to agree or disagree. Either way, these are too real for me and sorry lah, am letting my steam out. ahaks!!

PS: why all these matters? because it explains why we've meet so many ppl who failed to understand or even failed to exercise the HIGHEST VIRTUEs of LIFE or the ad-deen itself. And I'm not talking abt ppl with no education, I'm talking abt ppl of highest material and academic achievements.
Waallahualam.

/dzan

Monday, December 26, 2005

jihad

dimanakah mukjizat itu
yang mampu membelai ombak ganas
menjadi air tenang
tiada pula buaya berbudaya
membaham nyawa-nyawa yang menyelam

biduk ku hanyut di ruang kecil
muatan ku sarat bernyawa kerdil
terapung didataran air nan tenang
mengharung arus dalam
yang gagah menerjang

aku kuasai ilmu para wali dan nabi
aku persembahkan diri
aku membentuk tanah, besi, air dan api.

bakalkah jihad aku menjadi rapi?

/dzan
dec 2005

Monday, December 19, 2005

membelah pelangi

aku membelah pelangi
tiap jalur aku luruti
ku pintal-pintal menjadi kayu api
berpinar berbinar terpancar
suara naluri dalam kaku gementar

apakah erti warna-warni
kunang-kunang pun tak mengerti
dimanakah pari-pari sendi
terkubur dalam segala perincian
merapuh tiap semangat kehidupan

jatuh air dipipi
masin mulut mengucapi
pelangi tak mampu aku jaringi
sekadar membelah membakar semangat jati

/dzan
dec 2005

Saturday, December 17, 2005

dihujung pelangi

aku dihujung pelangi
muncul digigi langit
tatkala hati meratap sengit

disini tiada harta
disini tiada khabar gembira
disini juga tiada gelita berwarna

//disini cuma ada dongeng orang tua//

/dzan
Dec 200

Friday, December 09, 2005

teruja

diri dimamah masa, teruja
entah sampai bila, terduga
sementara ada tenaga, bercinta
saat awet muda, belia
sesampai rebah diriba, PERCUMA

//segalanya hanya tinggal sisa//

/dzan
dec 2005

Wednesday, November 23, 2005

ketur

ketur macam ketur
suara mu
tingkah mu
akal mu jua

betakung lendir dalam ketur
hanyir menjadi busuk
berbau sepelusuk

gantikanlah dengan pewangi
setanggi pun lebih bererti

/dzan

Thursday, November 17, 2005

berlarut

berlarut cerita duka
dalam suasana ceria
entah membikin dosa
entah membuka pekong didada
entah dimana nikmatnya
janganlah fitnah bermaharaja-lela


/dzan
nov 2005

bersetuju?

tiada aku bertaksub
melainkan sering tergugup
pada arah hidup yang rapuh

tiada aku melatah
melainkan mengutara minda
dalam hidup gagah
penuh fakta, terendah

seteru mengangguk
kawan bertepuk
kian terkumpul bertakuk

bersetuju?
sebenarnya mengeliru
tiada menambah ilmu
malah berkalut hidup semu

/dzan
nov 2005

Friday, October 28, 2005

kembali fitri

kesudahan kita begini
tak sesampai kepenghujung
sekadar bermula cerita seru
membangkit seribu selera
bercita-cita nafsu merasa
nikmat bergelimpangan dimeja

apakah cinta
atau nafsu dan selera, menguasa
adakah kerendahan
dalam diri feel talbiah
menggapai peri matlamat
yang perlu diberi hormat
kacau yang tak terubat

pernah
angin memberi ingat
ombak memberi matlamat
purnama memberi semangat
kemeriahan yang datang seharusnya
memberi rahmat mensuci jiwa
dalam kemaafan berperi
mengayam insaf merapat-rapat

kau jauh aku dekat
kau dekat aku rapat
kau rapat aku bersemangat
salam disini aku memberi hormat

aku mohon maaf
aku mohon insaf
aku mohon ucap
selamat hari raya aidilfitri
sucikan hati kembali fitri

/dzan
oct 2005

cinta aku pada mu

cinta aku pada Mu
kadang ada, kadang tiada

rasa tak cukup ketika ada
sebab Engkau sering memahami
mengasihi dan tiada putus merestui

Cinta aku pada Mu
kadang ada, kadang tiada

rasa tak luak ketika tiada
sebab Engkau dan aku
sering tiada bertemu dan menyapa
walhal akulah pengangkara
lupa pada diri, menganiaya
menjauh dari sisi, Kamu

Cinta aku pada Mu
kadang ada, kadang tiada
walau hakikatnya aku rindu
merimin bila ku ingat nama

/dzan
oct 2005

entah kenapa

entah kenapa hati terbisik, curiga
tentang luhur peribudi, bicara
manis sementara atau berpura
meninggalkan aku sendiri, sepi

kata diayak, budi dilurut
minda tiada daya bersahut
sementara aku disini
menjulang erti hidup bermimpi

/dzan
oct 2005

Wednesday, October 19, 2005

sehelai kain putih

sehelai kain putih
pernah membaluti
tubuh kecil yang munggil
ketika pertama
deria hidung bertemu mata
deria mata bertemu telinga
deria telinga bertemu suara
ayah bonda berkalimah, bersyahadah
menyeru nama Allah
solat ditinggal jangan
bergegaslah kearah kemajuan

sehelai kain putih kini
telah dilumuri darah bernanah
telah diwarnai rencah amarah
telah dikotori nafsu membesar
dicuci juga menjadi bersih
tapi tak terlihat warna-warna putih
cuma kelabu
meninggalkan kesan
dalam bentuk segala kerapuhan
terlupa dimana disimpan
hendaknya taubat berkesampaian

sehelai kain putih
digunakan kembali, bersih
membaluti sekujur tubuh munggil nan tua
yang telah mandi
disetanggi mewangi
dikapan membaluti
diazan terlaung ke dasar bumi
bersendiri

/dzan
oct 2005

Friday, October 14, 2005

kering ditubuh sendiri

jenuh aku dipundak
onak menghalang aku kepuncak
bermula dari kecil langkah setapak
dalam jurang buana belantara
dalam gaung sarat pancaroba

lidah ku basah
tak kering digusi
pelikat ku kuyup
kering ditubuh sendiri
tak mampu disidai
tak sanggup mendedah aurat terurai
malu mengaib
tiada kain lagi untuk diganti pakai

aku disini, tidak berlumba
aku disitu, sering teruja
rasa menguasai selera
hati mengaburi minda
ilmu dunia mahu ku timba
melaung sekuat suara
tiada bersembunyi digua

/dzan
oct 2005

Thursday, October 13, 2005

mencari

aku mencari rumput
yang hidup diatas padang
yang tak kenal membezakan belalang
lalang tumbuh mengaburi nisan
akar menyelokar berseparan
diatas dataran merekah
tak terbeza warnanya tanah
disitulah ada tinggi
satu suara minda berperi
kental auranya
jitu semangatnya
tak terhakis dek banjir berkilat
tak hanyir dek najis tersumbat
datang saat genting
kiblatnya tiada berpaling

/dzan
oct 2005

duka

salam terdahulu yang kudus
langkah yang ini terhunus
duka menjadi parah
luka sekadar berdarah
menjadi bebanan
bukan suatu fasa kehidupan
langkah perlu berterusan
tapi
tak hilang ditelan masa
tak pergi terubat luka
tak lalu mendamai sengketa

SUASANA, MEREKA dan DIA
tak dapat melipur lara
suka dan gembira
belum milik hamba

/dzan
oct 2005

masih

aku masih belum boleh ketawa
mendengar suara langit pecah
berdendang gendang amarah
nyawa menjadi parah

aku masih takut tersenyum
melihat bumi terus merekah
menari rentak sumpah serapah
nafas menjadi alpa

aku masih menitis airmata
sebab aku dan manusia
masih terus bermegah

/dzan
oct 2005

Sunday, October 09, 2005

rindu ramadhan ku

dijendela resahku menjengah
dimalam hatiku gundah
apakah siangku bakal menjadi hina
atau termangu cuma tangan terngadah
menadah suara berdoa
gusarku terubahlah menjadi indah

kenapa peluhku membasahi tubuh
dalam air resahku bercampur
saat dalam tarawih dan witir
aku hilang cemas dan getir
lantas ramadhan mensuci jiwa
menghilang segala nista
rahmat kembalilah bertahta

ini bukan pesta juadah
inilah temasya ibadah

aku rindu ramadhan ku
saat itulah aku dan waktu pernah bertemu
aku malu pada dosa-dosaku
aku pohon belas ikhsan MU

redupkanlah suara aku menegur
dalam getir doaku teratur
ampunilah, muliakanlah
gantikan hati nan gundah
kembali menjadi mesra dan mulia

/dzan
oct 2005

Friday, September 30, 2005

dalam puisi

dalam puisi
ada kata, makna
ada bicara, jiwa
ada raga, nyawa
ada hidup, saksama
antara engkau dan aku, selamba
hidup bersahaja mengasihi, kaji
dan mengaji, istilah
cinta azali, PERCUMA !!!

/dzan
sept 2005

Tuesday, September 27, 2005

bangsat

terbilang dalam kata, ketawa
dalam duka, hiba
meratap kasih, tak punya
sendirian berteman angan, keseorangan
pilu ketika hujan, turun
meredah bumi, membasah
hampir merekah, gelisah
tapi manusia masih tak endah.

tuhan memang dekat, manusia
diberi ingat, lupa
pada kudrat dan hidayat, kejadian
menyalahi tuhan, angkuh
pada diri kesohor, hormat
cuma pada maksiat, berjabat
ketawa sesama bangsat

/dzan
sept 2005

Friday, September 23, 2005

life does not revolves around me

salam again,

hemm..maybe i should be a blogger and create the new Blog for my words - segregating my poetry works. But until then, here will do.

Apparently, my postings (like forever ha), seems to attract all the wrong ppl. and some ppl would think that I'm dwelling / prying onto their life. bummer!!! and sob! sob!

Got news for you. LIFE DOES NOT REVOLVES AROUND YOU (or ME)...and THIS IS NOT ABT YOU. However, my words are reflection of my life and anything I see or feel - What I am and what I am NOT. If it touches you (or even yr raw nerve) in a way or another, take it or even dispute it. Just remember, my mind is NOT Pre-Occupied with someone else life.

Btw, Co-incidentally, the statements I've made was a result of another conversation that I've had with few GOOD friends just abt 3 days ago. In which they asked me the following :

a. why do I only posted POEMS?
b. what is my definition on Choices in Life?
c. and ya, why I never become a LAWYER!!!

hemm...such topic is too general right and it is abt anybody and everybody. Very well...so be it. I suppose this is what is said " SIAPA MAKAN NANGKA KAN TERASA GETAHNYA". something of that sort.

hemm...I've yet to post my hypothesis on " RESPECT IS GIVEN OR COMMANDED, not EARNED". If I post that, apa lak orang cakap.

and mind me. I dun insinuate, so my words were addressing my close friends queries towards me; as explicit as I can be. nah.. Blog RATING? I couldn't care less. (wa bukan blog-glidder..remember?)

as suggested in the title of my Blog i.e. LIFE per se: entah ya entah tidak. so Don't simply agree, but don't simply disagree. ya yr choice. If I've offended any of you, tell me exactly how and what. Don't insinuate. I'm TOO DUMB to read in btw the lines.

Have I moved on? believe me, more than you know. Am ready for death even (not because of life misery ha) . but Have / Are YOU !!!?

if it helps you to understand, pls review my past postings in June 2004 entitled :

On Maturity and Uniquely Me !!

at the following:

http://dzan.blogspot.com/2004/06/on-maturity-and-uniquely-me.html

else, never mind. wallahualam.

/dzan

Wednesday, September 21, 2005

dzan talks back

assalamualaikum,

I'm not a blogger. And never want to put too much thoughts to be one. Not sure if I'm even a writer (though I'm a wannabe) - since my writing skill is not up to standards and my inabilities to express myself had always been a hurdle. Often than not, I've been misunderstood. (wink!)

But I luv to write poems. It is a way for me to escape from the rules of writings - to break down all boundaries, walls and pen my disconnected thoughts and all its meanings. It does not matter if my ideas are so disconnected..and what are my real intents. Afterall in poems, readers are free to intepret whichever way they see fit. Thus, I prefer poems than writing too many words in paragraphs.

What is my point?

  • I don't believe in freedom of speech - in totality (is there any?).
  • I don't believe we have choices in life. But we do have FREEDOM with NO CHOICE.
  • Nah..don't go by insinuation.
  • NO!! am NOT trying to be RIGHT either (or to win for that matter), else, I would have been a LAWYER!!! ahaks!!

So what am I doing now? Oh!! I am simply talking back (menjawab lah tu)

/dzan

Monday, September 19, 2005

erat aku dipeluk bumi

birat, biru wajah ku
udara tak dapat ku hirup
nafas tersangkut

terbuka hijab dimata
tentang segala perilaku dan dosa
luka parah, bisul bernanah
ulat cacing bermaharaja lela
senyap siulan ketawa nan megah
ditimbusi tanah-tanah asal aku dicipta
terasa sarat menghimpit dada
berzikir dan bersyahadah tiada upaya
mengharap ikhsan takungan airmata
dalam erat aku dipeluk bumi
layakkah aku menghadapi izati
taubat kini tak berguna lagi

"kasihani dan ampunilah, ya illahi"

/dzan
sept 2005

Wednesday, September 14, 2005

pinjamkanlah

pinjamkanlah aku kamus itu
buat penangkal dari penipu
menjadi penghurai muslihat ilmu
...pengamal sihir, ...ahli silap mata
...tukang karut, ...munafik pidato
yang temberang
terburailah segala tembelang

pinjamkanlah aku buku azimat
buat menghayati irama dalam kalimat
mentelaah syahdu zikir munajat
mengenal pasti segala muslihat
menjadi pesan penuh hikmat
bertekad menjadi kuat

pinjamkan aku colok pelita
menjadi penerang ketika gelita
menjadi selamat dalam bahaya
menjadi ceria waktu duka
menjadi penenang dalam gundah
lalu terngadah erti hidup berhelah

/dzan
sept 2005

Thursday, September 08, 2005

puisi saksama buat Hasan

:hasan
bukan kerana banjar mu
jawa mu, atau bugis mu ditengah melayu
engkau menjadi tamu yang malu
bukan kerana melayu ku di wilayah ini
aku menjadi tuah yang gagah dan berperi
bukan kerana kasta yang membeza
tapi rumpun yang kuat mengikat satu raksa

lalu ada apa halnya dengan lain bentuk suara?

cuba mendongak ke langit biru
tiada dijunjung, tiada disokong
tapi tak rebah, tak roboh di kepala.
cuba genggam bau tanah dipijak
aroma dan baunya sehangat keringat kita
menitis membasah bumi membina tamadun dunia
cuba timbang berat garam dalam air laut
masinnya sekadar menambah haus, membuncit di perut

lalu kelainan kita cuma
terbeza pada bayang-bayang hitam
menghilang bila suria jernih bertandang
jangan kabur dalam penilaian dan pandang

/dzan
sept 2005

Wednesday, September 07, 2005

melayu ku

aku pernah terlahir melayu
tapi melayu ku beku
bertutur tak termampu
malah pelat bicara melulu
tiada gambaran bahasa baku
beradab pun canggung dan kaku

melayu ku terbiasa
dengan ganti-nama "lu dan gue"
beralamak "wah-piang dan obiang"
berpusu pada ungkapan "kiasu dan suaku"

tapi dicelahan kepulauan ini
aku dikejutkan kembali
oleh bahasa anak-anak bangsa
bertutur teratur tiada gembur
bersahaja memperkaya budaya
di sinilah aku bertemu
melayu ku

/dzan
sept 2005

Tuesday, September 06, 2005

tak sesampai

tak sesempat kita berdamai
segala maksud tak sesampai
bicara dan minda berkalut
hampir terselongkar segala isi perut
bergelut dalam tikaman maut

aku akur
inilah hidup nyata yang tak teratur
terdaya cuma bertafakur
ku tinggalkan tuduh diukur
oleh jitu maha pengatur

di tangan mu ada piala
menjulang menang bersorak ria
berteriak borak tiada kepalang
menjadi gusar bila terhalang
lalu aku cambah benih diam
tertuduh lagi khianat berlonjak
terkeliru lagi, maksud menjadi rosak
sejarah silam kembali bertanak

biarlah aku sandarkan kepala
pada kalam punya kuasa
kebenaran pasti datang berbalam
ihsan dan ikhlas tak mampu bermuram

/dzan
sept 2005

musibah

waktu itu
angkuh telah rapuh
sekilat harta habis hancur
megah berganti gundah
ombak ribut, meragut
memukul terpukul, beropol
menggulung tikar berarus, menular
meninggi suara rakus meminta nyawa
mengejar tiap nafas yang bertempiaran berlegar
yang bertaut pada tiang dan akar
tiada juga dibiar

tapi rumah itu dibiar berdiri gah
bersama nyawa yang berselimut
bermemunajat dalam takut.

aduh sakit
engkau pergi bagai semut
bencana datang berebut-rebut
katrina singgah disana
disini tanah runtuh bertapa
menggelungsur, kejam membunuh
rumah-rumah megah kian hancur

musibah bertandang lagi
tiada terundang
kapal megah tak mampu terbang
nyawa-nyawa manusia semakin hilang
suara-suara pedih
jelas sedih terintih

"disinilah ada bicara, aku mengaku dosa"


/dzan
sept 2005

antara fakta dan dusta

meraka dalam pecah
merakus arus berkalimah
tersepit diampaian minda, berlegar
tohor dan sohor dibilang serupa
gendang bendera dikibar
lupa pada darah yang banyak sejarahnya
berdesing panggilan loceng gereja
mencemar falsafah budaya

kenapa lupa laungan syahdu
bisikan bilal jerih berpadu
5 kali sehari menyeru
memanggil nama tuhan
menyentuh naluri suara kemajuan
mengajak diri jauh dari kefasikan
membuang topeng barungan

fakta:
//pelopor ku adalah pencipta//
bersejarah merdeka
membebas suara dan minda
pemangkin tamadun maju sejak lama

dusta:
//tapi penjajah dibilang pelopor//
sang lembu yang diperbodoh
malah sapi dibilang kesohor

/dzan
sept 2005

Wednesday, August 31, 2005

merdeka (?)

denai ini pernah dilalui
oleh orang-orang bangsa, merentas desa
tak akan tersasar, tiada jera
melangkah pergi dan kembali
pasti, perut buncit berisi
tapi tak kemana pergi

belantara ini pernah diteroka
oleh perintis bangsa, pelopor niaga
memperkaya anak-anak desa, membuka dada
minda berkitar keangkasa
hidup kian jernih, tapi jerih
tak kesampaian makna

kota ini telah pesat didiami
berakar umbi minda penjajah
tergarap budaya asing dalam bangsa
kosakata mencarut terbiasa
kerohanian disisip bersuara dusta
bermuafakat padu pada hati yang riddah
(Astarghfirullah)
semua atas nama bebas suara
dibilang tuhan mencarut auta
dituduh insan munafik berkalimah
kian celaru dalam merdeka
megah dalam hodoh-laku bitara

hormat, hanya pada seteru pencipta
merdeka, entah mainan apa

/dzan
31 August 2005

Sunday, August 28, 2005

terantuk, bernoktah

saat aku cambah
bermimpi dalam kota-kota sejarah
mercu meninggalkan lelah
mengukir nama-nama indah
perasan sesempurna bermudigah

terantuk !!

disini aku raka
perlahan terukir belah
datang ragaman bahaya
berakus dalam kelana

bernoktah!!

megah bertitik rendah
tunduk bertolak tengadah

/dzan
aug 2005

Tuesday, August 23, 2005

mentera dan serapah

serapah ini ku baca
ku minta tunjuk, minta petua, minta kuasa
air langit mahu ku timba
ku kumpul hanya dalam satu belanga, jadi kuala
buat mandian, ku cuci semangat
bersama 7 jenis bunga
dalam 7 macam telaga
pertapaan ku diantara 7 benua.

ku bikin pengawet, jadi tangkal berazimat
membersih darah, jadi lancar berlumat
mercu keakal, bersisip nyawa bernafas
pemangkin minda pintar bergegas
fikiran jadi kuat, lidah jadi petah bertaklimat

mentera ini ku cipta
ku puja suara, ku panggil selera
ku bangkit daya kental berjiwa
bermakrifat, ku seru semangat malaikat 44
agar tenang datang terikat, bahagia beradu kuat
hidup-mati pun tiada bermuktamat
lurus, kudus, menghunus
mengucap dua kalimah, bersyahadah
sebelum daya menghilang tiada

akulah bermentera serapah
jitu bermudigah, tabah ketiadaan megah

/dzan
aug 2005

Friday, August 19, 2005

waktu

waktu memukul manja
dalam kesibukan yang tak sesempat
kepasar membeli ikan
kekedai membeli lokan
kerumah tak terlarat
berseloroh bersama rakan

BISU.

malam menjelma sepi
membisik tanpa wajah
membising tanpa suara
aku entah kenapa

/dzan
aug 2005

Wednesday, August 17, 2005

ruang atau kesempatan

ruang atau kesempatan
yang menlekatkan kasih berakrab
menjernihkan rindu
dalam bahtera rayuan masa lalu

suara mika
bingit menjerit, mentertawa
pancaran indera berlogika
tumpuanku hanya padu
deria ku bercelaru
menerpa

disini ada hidup yang tak terbahas
namun aku puas

/dzan
august 2005

Saturday, August 13, 2005

asma

asma
nama mu atau kelemahan mu
yang tersanggup beradu dengan jerebu
menghidu berbola debu
terkandung lelah dari hutan sumatra
yang terbendung hanya berkitar
bila air langit mencurah manja
kesudahannya tiada ketara
keindahannya sering teruja

/dzan
aug 2005

Wednesday, August 10, 2005

GAH (alfatehah to bro Ahmed Deedat)

engkau pernah jadi terbilang
dalam kemasyhuran yang tiada ertinya
melainkan kerendahan
yang tertulis dan termaktub atas kertas
dalam ragaman pita yang pantas
dalam usaha tak terbatas

kita memang sukar menangkis
mual dan jemu pada kemuliaan tersembah
tapi tiada henti daya mengubah
mengasah, berpayah berjuta langkah
menjana peribudi terserlah

sesekembali mu pulang kerahmatullah
atau menyinggah saja kemakkah

disitukah permulaan
pertemuan dan suatu penghijrahan
suatu perjalanan hidup dipersisiran raudah
tiada henti bersuara mu, GAH !!!

pinta mu jangan ummah terhiris
fikir dan laku jangan sampai terguris
anak-anak kecil akan kembali terpilis
dalam keberkahan hidup bermajlis

engkaulah yang membuat aku berani
mendengar suara diri
melihat rentak tari
kaki ku yang sering genyut berlari

"Semoga Allah merahmati Mu disisi"

/dzan
Aug 2005

(Early morning, 8 August 2005 / 2 Rajab 1426, Sheikh Ahmed HoosenDeedat passed on to meet his Creator. This was after succumbing to a severe stroke that left him paralysed for more than nine years. I've known him and met him personally back in 1990 in South Afrika Durban. He has inspired and touched my Life alot. Alfatehah)

Tuesday, August 09, 2005

tuah

tuah
engkau menghilang ghaib, bersemadi
tanpa makam, tanpa nisan, tanpa kesan
meresapkah bersama air sungai diperut bumi
atau menghilang dalam sisipan wap
yang meninggalkan tanah
bersama angin panas menebal keawan
yang bakal sarat menjadi hujan

atau mungkin engkau ghaib
bersama tengku puteri
jauh dipergunungan
hilang dari pandangan
lalu tenggelamlah taming sari keperut lautan

tuah
yang tinggal hanya nama mu
setelah seteru mu tewas beradu
setelah ajal jebat bertemu, dihunus keris mu
setelah kedaulatan melaka gagah dipertahankan
setelah cinta mu tergadai demi sultan

yang tertinggal juga
cuma perigi tua dikota melaka

apa sebenar agama mu?
apa sebenar falsafah hidup mu?
apa sebenar cinta hidup mu?

apa benar ungkapan mu
"Tidak melayu hilang didunia"
sedang engkau entah kemana
bertaksub entah pada apa....

/dzan
aug 2005

Friday, August 05, 2005

Announcement - Projek Cermin : Sejuta Puisi

Greetings,

I'm embarking on a regional book project called Project CERMIN : Sejuta Puisi. The writers of this book will be of Malaysia's, Indonesia's and Singapore's. Yup, it will be in Malay or rather I would say BAHASA SERANTAU i.e bahasa malaysia, bahasa melayu atau bahasa Indonesia.

This project is NOT just another antology Puisi to furnish the Book Shelves in the Book stores. But rather, it is an effort to produce a Book of Knowledge on Regional Poems (in malay / malaysia / indonesia) that will assist in influencing the proper usage of BAHASA SERANTAU ( I called it) - besides the obvious reason(s) in appreciating regional poems itself.

It is not a HARD and FAST rules though, but it will be somekind of a brief guide (and hopefully a Good one too) towards writing Poems in Regional Languages.

The 1st section of the book will talk abt the different flair of regional malay languages and some theories in writing Puisi and / or even the usage of malay words in this region. Yup, it will be based on a well researched materials (secondary / literature research though) in the First section.

While the 2nd section will focus on the 100 to 150 of newly fresh poems contributed by writers around this region.

If you have whatever it takes to contribute - Poems i.e. and you are from this region, pls participate. But ya, only in Bahasa Malay, bahasa Indonesia or even bahasa Malaysia.

And even if you are NOT a malay and not in this region but would want to contribute your Poems in the regional language - please do and do not hesitate. Not english though.

Closing date of Submission ? 30th August 2005
expected launching in Singapore, malaysia and Indonesia January 2006

For more information, pls visit the newly created blogsite for this purpose(s):

http://cermiin.blogspot.com/

I do NEED MORE of Malaysia and Singapore Poets (or wanna be) to participate. (not that I'm shortage of materials, but shortage of Malaysia's and Singapore's writers.

So, don't wait. Pick up that pen and start writing..and ya submit. Check out the Cermin Blogsite ok - for regular updates.

Thank you.

/dzan
5th Aug 2005

Tuesday, August 02, 2005

peta

segumpal tanah itu merekah ditelapak
terpisah menjadi negeri-negeri merdeka
terbilang dalam jurang falsafah
bangsa
bahasa
dan budaya

pelapis ku masih tahu
istilah rebung menjadi buluh
pengertian ketuanan yang satu
kesungguhan kepopongan nan padu

perlengkapkanlah usaha petah bicara
sempurnakanlah dari gugup bahasa
mempertangkaskan jurus melangkah
yang mengarah kepada suatu peta daerah
bersahaja

/dzan
aug 2005

Thursday, July 28, 2005

jangan

aduh jangan, tuan ku!!
jangan diusung jasad ku
dalam rupa nan beku
dalam tingkah nan kaku
dalam fikir nan bercelaru
jangan kau terima aku sebegitu

izinkanlah aku,
mendapat sempat,
membina jati, berazimat
membersih najis
yang kian lama teriris
dalam jaga, dalam lena

gantikanlah api dengan nyaman, udara
biar tenang keberaduan ku nanti
izinkanlah langkah ku sarat
menghargai nilai hidup sejati
dan ketika sendiri diperut bumi
akan ku tahu pasti
tuanku senantiasa menemani

/dzan
july 2005

Sunday, July 24, 2005

lelaki

aku mahu engkau menjadi lelaki
gagah dan perkasa
dalam suara dan gaya
bersemangat jiwa dan raga
tiada terlihat gemulai, lagaknya
tiada terkilas bunyi, germersik
sekadar gaya tiada terusik
seorang lelaki waja, bersahaja

minda mu biarlah kuat
jati mu biarlah bersemangat
jasad mu biar termuat
dalam layar hidup
yang tiada dibuat-buat

/dzan
july 2005

judgement (the elephant rock)

by the morning tea
an afternoon coffee
breezing wind, warming sun
sitting by the sea
the waves are waving at me
(am i under a coconut tree?)

oh....
i'm feeling sleepy, lazy
but my mind is buzzing
blogging maybe
for words, for air
grasping for thoughts
searching for that familiar rock
that once disappeared
into that deep sea
appearing only
when the sea is on my knees
(or was that an imaginative me?)

it wasn't just a myth
the rock was once an elephant
it had moved and breathed
and the story was told
it had an obedient soul
sincere and faithful.
but the tainted hearts of human soul
often lost control
hence, abuses took a toll
on that poor soul
fairness and justice were untold
yet discrimination unfold
and the elephant was judged, cursed
turned into a hard cast stone
(and justice was never uphold)

yet again,
the elephant is now buried deep
making ways for urban keep
once again it disappeared
away from memory, forever

/dzan
july 2005

sia-sia

sia-sia embun menitis
pada dedaun keladi
yang tiada pun basah, malah
meresap pada angin
ghaib bersama datangnya mentari

kenapa menyapa...dengan cinta
yang dulu ternyata semu
biarkanlah ia pergi, jangan dekati
hidup ku yang kini kian padu
matang, bersama kupu-kupu
yang pintas bebas
menghirup masa depan nan jelas

biarkan saja aku

/dzan
july 2005

Friday, July 22, 2005

saat paling indah

saat paling indah
ketika nama ku kau sebut
ketika cinta ku kau sambut
ketika lamaran ku engkau bersetuju
berbisik, germersik hati terusik
saat itulah yang paling asyik

saat paling gembira
bila sehari aku menjadi raja
ku toleh disisi, engkaulah permaisuri
bersumpah berakad memohon berkat
bermeterai segala janji
bertaut kasih mendakapi
dalam malam, dalam peluk, dalam selimut
dalam kasih, meratap cinta berahi

saat paling sempurna
bila datang nurani
anak-anak kecil berlari, memecah sunyi
kerenah, suara mendamaikan hati
ketika itulah kasih kian menjalar
meresap segenap jiwa, mekar
ketenangan tersisip, memancar
kasih kita lagak arus-berterus,
saat kian indah, terlunjur tulus

/dzan
july 2005

Monday, July 18, 2005

panggung

hidup yang diatas panggung
ada tangan yang mencatur
ada niat membelit, tersirat
ada bicara langsung, menyurat
ada depan, ada belakang
ada mula dan ada penghujungnya
ada aturan berbait acara

ada buruk jadi terpuja
ada indah jati terhina
lantaran gemuruh tepuk dan hilainya
ada imbalan cerita segala
dalam rangka peraturan masa

berbicara, rapi disusun
gemulai langkah sarat, dihayun
matlamat untung, dikira
kemungkinan rugi, didusta
terjanalah rentak bicara
ragaman pencatur, melayarkan cerita.

inilah hidup semu
tapi ramai yang ingin bertamu
menyusur mengikut gaya
bertutur lagak idolanya

aku termangu, berakur
hidupku sarat tiada teratur
bicara ku tiada didorong, tiada terpaksa
malah aturan masa pun tiada
sekehendak aku bebas, bersutan dimata
rugilah hayat dikandung masa.

(jikalau aku anak panggung
akulah yang bakal menjadi agong)

/dzan
july 2005

Sunday, July 17, 2005

retorik

tiada kuasa aku
berhayal dan berlegar
melayani minda yang tersasar
pada bunyi suara nan leka
menilai pun tiada tegar
sumbing pada wajah
sekadar beretorikal selamba
indah sekadar menyusun bicara
berpusar dari niat alpa

/dzan
july 2005

Tuesday, July 12, 2005

meleset

dugaan ku
engkau dibulan
memberi hangat cahaya, suria
pada insan meraba
dibalik pohon segar
digurun sahara.
tapi engkau tiada

tekaan ku
engkau dibalik bintang
menjadi sinar berkelip
mengenyit pada mata
mereka yang memuja
memberi arah.
namun engkau juga tiada

sangkaan ku
engkau meresap matahari
memberi erti
pada tiap zat yang menjadi
melata dimuka bumi.
tapi meleset juga aku
akan segala perihal kamu

/dzan
july 2005

makna

makna dalam kata
telah lama hilang, jatuh
diperut perigi tua dan buta
bayang tiada lagi tergambar
walau perigi tenang memancar
sang aku
telah pun bersemadi
bersama ulat dan cacing bumi

ertinya aku tiada kembali
menyembunyi segala erti janji

/dzan
july 2005

Friday, July 08, 2005

how to heal

a question is asked
If You Are a Victim of Violence: How to Heal?
i say feel
and practise the peace

/dzan

Wednesday, July 06, 2005

tewas

aku mahu sendatkan, nafas
dari hidup yang tiada, kemas
meracau membikin kacau, tiada puas
gejolak nafsu mengganas, buas
tiadalah sekilas aku, terlintas
semuanya tiada batas

detik atau hidup?
yang terpantas, menderas
hanyalah sekadar angin, panas
mencecah keawan, kapas
akulah yang tewas

/dzan
july 2005

Sunday, July 03, 2005

wanita

wanita
cenderung aku bernikah
bukan dasar hukum yang menyuruh
tapi ada cinta, ada hati, ada nyawa
ada hidup ikhlas yang merangkum, menyeluruh

malap pelita hati ku, keliru
pada bidalan yang menyusul
berakad atas rupa, darjat dan benda
tapi iman mahu juga

tiada terlintas iman jadi andaian
sebab itu urusan tuhan
apalah daya dapat ku kesan
namun atas peri islam mu, aku bersyukur
engkau menyusur dan kesohor

wanita
berhentilah membasah hidup
dalam kias, beribu tanya
tiada ku tahu apa pun makna
bernafaskanlah, seribu jawapan
penuh waja, beria dan bernyawa

berhias pada diri
dengan air yang menyegar jiwa
pada kata yang mencermin minda
dengan celak yang menjelitakan watak

itu bukan sempurna
(tiada pun ku pinta)
tapi menjauh dari pura-pura

/dzan
july 2005

Saturday, July 02, 2005

hujan

aku pernah terdengar bisikan
rintik-rintik hujan
bergeser-geser dengan awan
sebelum jatuh meninggalkan langit
dalam perjalanan sengit
berlumba menyisip debu, meneraju
langsung ke bumi, sepuas hati
meredup, menyegar, membasah
dibumi nyata. PUAS

tapi kenapa manusia ketandusan juga?

terendak

ketika menatap ilmu dihalaman
dalam senja, setelah puas hujan
aku terhendap keberadaan
himpunan terendak bergerak pelahan

aku ketawa
terbangkitkah mereka dari lena
lantaran air langit yang tadi deras, mengganas
jika ilmu cuaca ditimba?
mampukah menahan air bah, merubah
ruyung yang selama ini adalah bumbung, pelindung
tiada terkongkong dan berkurung

tanah yang dibasah, apakah ada erti
pada dedaun yang dimamah
sebulatkah lantang suara
merubah hidup semasa

mana mungkin
gerak mereka pemangkin maju?
menukil fikir dan laku
malah keliru
walau jelas kelainan mereka.

/dzan
july 2005

Thursday, June 30, 2005

kamus

berharian aku membaca kamus
mengkaji bidalan sarat terhunus
mentelaah erti makna
meneliti makna erti
yang tersurat, apa?
yang tersirat, mana?

terasa jauh tersudut
terpelanting, dibanting dan dibaling
udara terkian semput
nyawa termakin susut

bawalah aku kealamiat
dimana ilmu menjadi kuat
bukan suara yang berputar kata
tetapi jerih yang menentang boleh

/dzan
june 2005

mendarap

aku mendarap lebih
dari insan kesohor dan fasih
supaya ilham menatang bersih
menggantikan gempita
mercu alam kesempurna

izinkanlah
aku menerobos, telus
pada dinding yang berakal
sukat, aku mencatu
pada luas hidup bernafsu
lapang, aku melekang
pada sempit hati menghimpit

berupayalah umum berfikir
tiada ceker dalam fakir
tiada cemar dalam nista
tiada hindar dalam tiada

/dzan
june 2005

Wednesday, June 29, 2005

antara hidup dan mati

antara hidup dan mati
seharusnya mati yang ku pilih
bukan atas kecewa
tapi dasar mati ada nyawa
ada ketawa, ada duka, ada sempurna dan ada kekalnya
dalam matilah tersusun segala atur acara
sedang manusia tiada daya

para pemikir beretorik
hidup sekadar plastik
menyusur nyawa sebagai simbolik.

sedang Sang Pengatur pesan berkali
hidup, sekadar DIA mengizini
selainnya pilihan pasti
supaya bila mati dan dihidup kembali
tiada DIA dikhianati
dengan segala caci dan cerca
bagai iblis yang terjun dari syurga
menyebar berjuta dusta

/dzan
june 2005

dengkur

aku dibanting subuh, dari tidur
puas semalaman aku berdengkur
nyaris serumah menjadi gaduh
lantaran dengkur yang semakin angkuh
terjaga mereka terhenti, mimpi
aku sahaja yang dibuai ngeri

lalu tersandung aku ke perigi
terlihat pada bayang-bayang diri
nampak gigi, nampak hati, nampak naluri
debu, kotor dan geli

ku basahi rupa, tangan dan kaki
hidung, telinga dan dahi
langsung bersujud merebah diri

/dzan
june 2005

Monday, June 27, 2005

pantun nan kasih

rindu jentayu pada mu hujan
kemarau dijemput dahaga berpanjangan
kasih ku sungguh pada mu Puan
sedangkan cinta sudah kesampaian

kota roboh dibiarkan sengaja
kecek melaka nampak sempurna
sepantun kasih dipiring ku lukis
mengharap curiga kian terhakis

ciuman ditelapak berbau tidak
kecondong ku umpil kelemahan ku anduh
puan menukil hamba berkehendak
hidup berkasih bercumbu nan utuh

/dzan
june 2005

semalam dan esok

semalam yang terundang
tiada mampu ku suruh pulang
masih disini belum pergi
mungkin menanti kelibat sang esok
menjemputnya duduk

berkocaklah air dicangkir
bukan kerana mendidih.
bergertaklah hati dalam tiada
bukan sebab gelora.
tapi ada dasarnya peri-budi
pada lada yang sering terpilis, dipipis

bicaranya tanpa daya berdiri
sekadar berkalis dari sisi
mengharap mika berjawapan pasti

lama.....
yang terlihat cuma
semalam yang tak mahu pergi
malah esok juga tiada mahu kemari


/dzan
june 2005

Sunday, June 26, 2005

yang

yang berfirman adalah Tuhan
yang bersabda adalah rasul
yang berkata adalah aku
yang berbicara adalah kamu

habis macam mana engkau tahu
benak bisikan akal dan naluri ku?

engkau psychic ha....

/dzan
june 2005

pantun bersimpuh

kenapa getah dibawa ke lalang
dibawa pula kedalam semak
kenapa diri bernasib malang
lantaran pengaruh manusia mendesak

bau mu geruh tiada tercium
geruh bersimpuh kedalam tubuh
apalah daya nama mengharum
kalau fitnah datang bersungguh

didalam dua bertengah tiga
sesudah berkilat berkilau lagi
berjatidiri gemulai ku bina
biarpun nafas seksa terhenti

/dzan
june 2005

kias

bertutur biarlah nyata
jangan sampai jadi PUNCA
berfitnah dan berburuk sangka
kau tahu disitu mengundang dosa
lantaran tak bertemulah mata

janganlah sesampai, KIAS
menular dan mengganas
jangan pula, bersuara
perihal bejat, berleluasa
tapi tak daya membawa bukti
menghindari dan membangun, jati
nanti sekadar retorikal, diri
indah hanya cuma, berbahasa
tapi kehilangan erti dan makna

kalaulah jujur pada hukum
bertablighlah, sama dalam bijaksana
makanya relevan itu mesti
dalam hidup kian berhari

/dzan
june 2005

tutuh

semalam
aku terlihat engkau
menutuh buluh memakai kapak
semuanya menjadi rosak
yang hanya tinggal rumpai
maksud dihati tak tersampai

aku ternampak lagi, engkau
menyiang semak memakai pisau
mencantas sampai jenuh
sesampai embun pun mula rapuh
benderangkah cahaya? tiada
sekadar luka kian terasa, berbisa

menutuhlah rumpai, sahabat ku
dalam tertib, beratip
supaya niat dan laku
berupaya menerangi suasana
tiada keruh bersabung nyawa
pada senjata yang tiada makna

/dzan
june 2005

Thursday, June 23, 2005

ludah

ludah yang berkocak
dari mulut busuk
dari hati yang berkalut
dari fikir yang berserabut
semuanya jatuh dari langit
berpunca dari nafsu
menerpa aku

tak akan ku kesat
biarkan ia melekat
menjadi ingat

/dzan
june 2005

kubur

aku akan berkubur, terkubur dan dikubur
tiada daya mengabur
seorang diri dalam sepi
di ruang sempit sedalam tujuh kaki
berkeleluasan 36 x 72 inci

mereka yang mengusung papan long
tiada akan mampu menolong
cuma cebisan doa penyampai seri, dipilis
menjadi api menerangi kamar sunyi, sendiri
hendaknya ada ikhlas dalam hidup
lantaran rahmatNYA dapat ku hirup

dikurung-batang inilah aku disoal-siasat
tentang tuhan, tentang iman, tentang kudrat
tentang ribuan maksiat yang pernah aku perbuat
segala yang tersirat bersembunyi
makin menyurat tersulam rapi
kebenaranlah kian sarat, merapati

kalaulah dulu
riak ku yang membuak
rakus ku yang menghunus
angkuh ku yang mempengaruh
kini aku layu terbujur, rapuh
cuma, saat ini perincian insaf telah lama hangus

/dzan
june 2005

siapa

siapakah yang dulu mengajar aku
erti berjabat dengan sahabat
memateri semangat berjihad
melawan seteru yang tiada puas berkeringat

siapakah yang dulu mengajar aku
erti budi memberi yang tak terperi
walau kerap difitnah diri
terbanting kelongkang hilang jatidiri

siapakah kini yang mengajar aku
erti ikhlas pada diri yang tersembunyi
ternyata kepuraan bertaksub budi
terkedu perasan setelah dikhianati

Wednesday, June 22, 2005

tak pernah ku tahu

riak ikan diair
tak pernah ku tahu jantan betina
yang ku tahu cuma ikan-ikan bersahaja
berlegar diair ikhlas mereka bergembira
bertenanglah jiwa dipandang mata

riak ikan diair
tak terlihat yang mana enak untuk kujamu
ketika bertemu dan bertamu
tiada terduga bisanya empedu
tersedar hanya bila terperdaya

riak ikan diair
yang malu aku,
atas nama Tuhan ku,
dan atas nama kebebasan ku
seteru tiada henti bersabong
tapi aku yang dibilang sombong
aku malu, tak tahu diri menilai budi
malu lagi pada tuhan yang serba mengetahui

insaf aku memuji illahi

/dzan
june 2005

tiada

tiada ketawa lagi
bila semua gigi pergi
yang tinggal hanya gusi
yang terkini hanya diri
yang jitu hanya palsu
yang mengadu hanya tipu

kemana dan bagaimana
aib mengaib, puji memuji
biarkan aku berlalu
menghirup udara merdu

/dzan
june 2005

Tuesday, June 21, 2005

bacol

kurang-ajar ini manusia
membaling batu tiada rupa, tiada nama
menyorok lengan atas niat apa..
perjuang bangsa?
prajurit negara?
atau pengjihad semesta?
entahlah
yang nyata hanya seorang bacol
yang hilang topengnya

dzan
june 2005

atas kasih MU

merebah aku pada mu Tuhan
mengharap ikhsan
tunjukkanlah jalan yang lurus
setidaknya untuk aku, mengurus

dusta ku, kemungkaran ku
dan fitnah ku berleluasa
ENTAH SAMPAI BILA.

semuanya atas Nama MU
atas sifat kasih MU
atas sifat keAmpunan MU
atas sifat penyayang MU

ENTAH SAMPAI BILA

akulah tiada daya, tiada fitrah
fikrahku yang seringkali bercanggah

tiada aku berupaya tanpa MU

/dzan
june 2005

padu

ada seorang tua menyuap kasih, cinta
pada anak kecil yang tiada punya, segala
cuma ada hidup, ada masa
sama-sama telah hilang, kasih mesra
cinta ayah, kasih ibu, cinta anak, kasih menantu

situa kurang upaya, cuma bersalut kedut
dan berselimut hidup silam yang berkalut
yang ada cuma sisa

sikecil, melampaui daya, bertenaga
tapi tiada nikmat, kasih ayah bonda
kehilangan segalanya
yang tinggal cuma upaya

syukurlah mereka bertemu
dapatlah menjamu, berteman padu
bersama mengharung waktu

/dzan
june 2005

Monday, June 20, 2005

pernah

pernah aku menjadi janin, bermain
dalam ruang yang sempit
tiada rasa terhimpit
sepi tiada suara
namun bisu tiada terasa
bermudigahlah, aku dirahim ibu.

sesampai kesuatu masa
aku terusung kedunia
pada silauan matahari, pedih
memecah sunyi dengan
bicara melalui tanggis, terguris
menggugat ayahbonda, memelihara

sering-kali aku ceria
dibelai, diusap dan dimanja
kekadang aku hiba
terperanjat saat ada ganas suara
akurlah aku
pada rentak-hidup beracara

/dzan
june 2005

my take on poetry

poetry is not simply an arrangement of beautiful prose,
They are pragmatic thoughts and wisdoms of human
endeavour and / or experiences.

vulgarity has no place within - unless we want to acknowledge
the increasing demands of pornographic materials as benchmarks
to human achievements in the pretext of art, creativity and
liberation.

/dzan
june 2005

Saturday, June 18, 2005

aku pemimpin

aku pemimpin, terpimpin, mahu dipimpin
kalau hidup sudah aman terjamin
tiada perlu kita jalan berpimpin

dari kakiku, tanganku, hatiku
sampai kebenak minda ku
apalah aku, kalau tiada memimpin
lantas hidup bahagia tiada akan terjalin

bukan hidup sendiri

pernah aku kira
hidup hanya untuk aku, sendiri
lantas aku datang dan pergi
semahu diri, tiada memperduli

menjauh dari bulan, matahari
melari dari bintang, segala bunyi
bergegas dari tiap insani
mencerok semahu diri
berteriak sesuka hati
berinjak menggegar bumi
dan bila tiada aku sanggupi,
rela saja aku pergi, mati

tapi ada ibu, ada ayah
ada abang, ada kakak dan ada adik
yang perlu ku perbaik
punya keluarga melopor generasi
suami, isteri dan anak lagi
menjadi masyarakat, ummah bervisi

kalau pun aku tak rela menikah
kemana pulak daya, membuang ummah?

kalau gagal,
angkara, aku mempengaruh,
kalau menang,
yakin, aku juga sama bersungguh

apapun jua, aku hidup dan mati
tiada daya aku sendiri
mereka dan aku sama, membayangi

ahh...aku..
lemas, dibumi nyata
tandus, dalam hidup, bersahaya
tapi kian peka dan akur, hukum segala

/dzan
june 2005

Monday, June 13, 2005

mulia dalam hina

puluhan tahun ketika dulu
dikota Cape aku bertamu
pesan seorang lelaki tua
kalaulah ingin hidup, mulia
dilingkaran apartheid empunya, rangka

berbiasalah,
berkawanlah,
berakrablah,
berpeluklah

dilempar, cemuh
dibaling, tuduh
diterjah, rapuh

biarkanlah lontaran nista
menjadi sandaran hidup sahaya

bila hati redha menerima
hidup bakal menjadi mulia
walau terbiasa dalam hina

/dzan
June 2005

bicara suami buat isteri

bertasbih aku mengharap ikhlas
bersih, dari mu Puan
aku menatang kasih, jernih

bicara ku
janganlah menangis,
hanya kerana aku tiada lagi romantis
janganlah hiba
hanya kerana aku mudah lupa
tarikh penting hidup semasa

janganlah mengadu rindu, bercelaru
berkeluh resah berkalislah, cemburu
sepi, jangan menguasai
pilu, jangan menakluki
biarpun langkah ku jauh, mencari rezeki

maafkan aku sayang,
istana ini tiadalah seindah rupa,
ketawa kita tiada juga selamanya
sesekali jerit perisian hidup sempit
serasa pahit bak nasi terhimpit

engkau, isteri yang aku akad
aku, suami yang restu terikat
kalau kesempurnaan yang ku cari
apalah diri tiada daya mengimbangi
bertegarlah, walau cinta nampak tercalar
berkentallah, walau fitnah datang berlegar
sebenarnya cinta ini,
merentasi hidup dan mati, Yakinlah


layarkanlah curiga durjana
berfikirlah dengan mata
lantas terlihatlah dengan telinga
berdengar-dengarlah dengan minda
barulah hidup rapi bermakna, bahagia

saat kerjaya kian terbanting
bersama putera-puteri kita bermain
ketika kawan bertandang, bersaing
mertua dan ipar-duai usahlah engkau berpaling

jangan terbisu sayangku
takut mengganjur bersama seteru yang bertamu

/dzan
june 2005

Saturday, June 11, 2005

it takes a great nation to move minds
but a rhetorical person to move sentiments

++++++++

if common sense is not so common,
why calling it "common" sense?

++++++++++++

Terbiasa

kalaulah sebati bicara kotor
carutlah hasilnya
kalaulah terbiasa bersumpah serapah
seteru tuhan berserta syaitan
bakal idola, pujaan

keter(lalu)an....
hebat mengikut nafsu, lesu
fikiran pun bercelaru
teryakin mengikut rasa, binasa
akan hilang kesinambungannya
termateri mengikut hati, mati
berkuburlah segala jati-diri
sekadar retorikal, insani

mungkin itu punca
hilang akal
hilang hormat
hilang kesefahaman
hilang ketenangan
hilang kedamaian
hilang keyakinan
hilanglah segalanya, kedaulatan manusia

kira-kira, tamadun manusia dimana?

/dzan
june 2005

tiada tegar

siapakah yang mampu berlari
dari diri; sejauh-jauhnya
dari kenyataan; sejujurnya
dari kebenaran; seikhlasnya
dari kehidupan; setulusnya
dari ketanggung-jawaban; seadanya
dari keikhlasan; semurninya
dari keyakinan; sewajarnya
dari hukum tuhan; semestanya

sememangnya aku tiada tegar, berlalu
mahupun aku bongkak menipu, berseteru

/dzan
june 2005

Saksi

siapakah bakal menjadi saksi, tiada musyrik
sepasang kekasih yang bercumbu, asyik
berucap dan bermadu, madah
membelai dan bermanja, hemah

dipasiran pantai
hangat, beritual
ditengah taman
sunyi, berhayal
dihari esok, terjemputkah
bulan dan matahari
segar dan berani.
PASTI?

sejagatkah para bintang, bersetuju
seikhlaskah si rembulan, merestu
lantas bakal menjadi saksi, berwibawa
kasih kini termateri jua, selamanya

Persoalan lagi:
kesohorkah cinta ini
dalam bentuk segala jadi?

/dzan
june 2005

Wednesday, June 08, 2005

Firajullah?

kenapa berani berbelut kata, beluting
berkarya tanpa fikrah, jijik
berSAMPAH atas nama sumpah, nista
memesong kiblat atas nama karya, fitnah

disini aku membelungsing
serendah mana fikir dan laku?
mendarahi nanah busuk pada pekong, diri
pepadu bersama lanji, murah

filsuf?, mana ada?
cuma bentrok dan bongkeng,
masih tiada puas bermusibat, jangan belota!!!

ini dibilang firajullah? astarfirullah !!!

kalau makin berani berselanjaran, musyrik
jangan ummah dipersalahkan
bagai iblis menyalahkan Tuhan
MAHA pengkarya saksi kejadian
kita bermulakat saja diakhirat.

/dzan
june 2005


kamus ringkas:

1. beluting = kotor
2. fikrah = daya berfikir
3. membelungsing = mengherdik
4. lanji = perempuan pelacur
5. filsuf = ahli fikir / falsafah
6. bentrok = berlanggar, berselisih
7 bongkeng = terapung dlm air dgn tertelungkup
8. belota = kenduri selepas menuai
9. firajullah = hiburan allah
10.berselanjaran = berterusan
11. bermulakat = bertemu

Tuesday, June 07, 2005

bernanti lumpur

dalam terang
dalam riang
dalam ketawa
engkau bersama kuncu-kuncunya
berbanggalah

pada rupa
tanpa nama
tanpa wajah
engkau pejantan memperhomokan
hidup dengan seribu keangkuhan

hooray!!!
untung sebab ada yang sudi
bernanti lumpur bersama meminati
minda, hati dan gaya hidup selari
pernahkah tertanya,
tua dan matimu, bagaimana nanti?

/dzan
june 2005

Monday, June 06, 2005

kir

menterdewasakan aku,begitu
bercelaru dalam menterjemah,kosa-kata
memurtadkan erti akur, makna
tersurat lagi tersirat
sekadar mengikut rasa, nafsu
tiada langsung meloncat minda.

belasut kamu !!
menbendung kuasa dan seteru
atas nama daya
ilham, punya angkara
memperbelatikan mohor raja,kebebasan
milik mutlak kiranya.

aku kir seterusnya !!!

tiada ternampakkah bongkeng
pada kata dan cinta
pada usul dan matlamatnya
sampai tak terperi
memborgol jati diri
lantas mengkersangkan masyarakat jitu

kalaulah unik yang di cari
sebenar apanya,
tiada beza dengan mereka
malah bersatu dengan seteru
keunikan apa itu?

/dzan
jun 2005

Friday, June 03, 2005

Where are you?

Where are the words, the voices,
the joy and excitement
that you bring....
even in a far distance
in bits and bytes...through digital medium

where are the wisdom, the kindness
the warmth and the simple gestures
that make my heart pound,
accelerating my blood...rushing to its peak

I could hear the noise in your silence
the pain in my solitude
the torment in this agony
the irony of being away and apart

give me...that smile again...
give me...that joy...
return to me...my heart...your heart...
so I can live and relive completely...
and my life and your life will be fulfilled

/dzan
8/4/2000

Luving Thee

not very long ago...
we met... we spoke...
we laughed and we shared

we talked about the wonders
of life and death... and its values
and all there is to know about things around us

but today... the world stood still
in silence... in remorse...
and in despair...

the sun stop rising and glowing
while the moon keeps disappearing
my heart stops pounding and begins to deceive me

the birds and waterflow went mute
and we become strangers?
in silence... without presence.

it must have been luv...
because i luv thee... still
to live and relive again I'll choose to luv thee

in a distance... in silence... in comfort
and in anyway I know how
I'll choose to Luv thee...FOREVER!!!

/dzan
7/28/2000

With or without you

no more sorrow or tears
just blood...numb...bleeds
within this heart and soul
without your smile or words
life seems so cold and old
ironic and bold...
silence as if i'm in deep grave

but I must
live for myself
finding my self-worth
new venture and tenure
to sprout my seeds and wisdom
and make life fulfilling in this universe

with or without u...
i'll live, smile...and survive...
talking to myself rather than to you...
than to appear mute...in remote silence

thank you for that moment
the gestures ever so...misleading
yet...I've found my true home...
within...me

/dzan
9/26/2000

luving you still

this flame is warm and burning
still hot for you... my luv
this passion is alive and kicking
yearning and longing for you still
be it near or when far...

how can i impress...?
express and be funny...

I am but a funny person...
so how can I...
tickle you deep and sweet?

where can we find peace
in solitude...
embracing and passionate
blowing the warmth wind... into your eyes...
sending that message...
into your ears....
tasting... your soft and sweet lips

I luv you... still
don't you know that?
I always have... and always will...
and if luv is a choice...
I will still luv you deep
so don't you forget that

/dzan

8/20/2000

Would You?

there is a gap in my life...
that creates the emptiness
i never thought existed

then it haunts me...

i hear your voice..
i feel your passion..
and i see... your silhouette...

i know..
you could fill in this void
and the emptiness...

but would you?

/dzan
8/3/2000

Wednesday, June 01, 2005

Good Faith

Being rich is like GOOD FAITH.
GOOD FAITH is a virtue
Flaunting it is UNBECOMING a pious muslim.
So, if you ever want to be rich, don't flaunt.
or rather if you have GOOD FAITH
don't tell.

Tuesday, May 31, 2005

maaf?

bergetir suara langit
kelat tiada memikat
malah begitu kesat, menyengat
bergetar suara hati
tiada daya mengengkari
walau benar ada pada diri, egois

termaktubkah bicara?
tersuratkah kata-kata?
atau tersirat erti rasa?

maaf ku pinta
maaf mu ku terima
sebenarnya maaf itu
tiadalah apa ertinya.

sebab handaian kita
melampaui perbatasan samudera

/dzan
may 2005

Sunday, May 29, 2005

Tiada kemungkinan

pada tuhan
mana ada erti kemungkinan?
kesemuanya adalah kepastian,
bersungguh dalam kebenaran
pabila jitu DIA meninginkan

yang berkalau ada insan,
yang beragu ada syaitan,
yang melulu ada haiwan,
yang tak menentu dan bercelaru
ada nafsu.

puisi dan pujangga
sekadar menghiasi minda
yang sering berkalut
yang tiada pasti tempat berpaut

sebenarnya
Tuhan itu PASTI
biarpun kita tiada
mengingati atau menginsafi diri

/dzan
may 2005

Sunday, May 22, 2005

Sinar Itu

sinar itu yang ku cari...

kata mereka disini, dilubuk sanubari
tapi kenapa payah?
perit juga untuk menggapai
sedang ianya tiada jauh mengganjur
kenapa pula ada tembok
berkuasa ghaib
mengaburi pelita hati

butakah panca indera?
tulikah deria mendengar?
matikah perisa lidah?
atau sememangnya
aku insan tolol...
tiada pernah tahu menilai hidup
apa lagi mengakur diri?

/dzan
May 2005

Saturday, May 07, 2005

A RETROSPECT : tsunami oh tsunami

"....when we assert that God intends to punish mankind through natural disasters, we are assuming that we KNOW WHAT is exactly in God's mind. But NO FINITE mind can grasp the INFINITE. Yet, people who say natural catastrophes as divine punishments are DEAD-SURE that that was HOW GOD intended it to be. "

Speculating God's will - the muslim readers Vol 23 page 29

Have you ever wonder why is it, constantly, when some misfortunes hit you there will be someone would be telling you that it is god's warth? And that someone is usually ppl who are outwardly religiously pious.And by that insinuation, they had been spared and protected from such misfortunes - unlike you the unfortunate(?).

(try checking on divorce / polygamy cases, you'll not be surprise that most reasons cited by men are because the wives have NOT been GOOD bla..bla..bla..)

But when such misfortunes hit them or their closed ones, they will be quick to say that it is A TEST FROM Allah of their faith. (bummer!!) While all the blames on them are NOT VALID . Is that logic or what?

I see this as a sickness in our soceity..since i was as young as 12 yrs old. mind me..i'm 40 yrs old now..and still feeling sad whenever i see this...that happens more often than not.

Have i got a BIG Task? and I'm moulding my princes and princess towards a betterment of faith by the value system that Islam has been advocate - in words, thoughts and action. Have got to GET OUT OF THIS VICIOUS CIRCLES!!! Can I ever succeed? InsyaAllah. amin.

Thus over the years i've been asking why? No, Not WHY GOD? not WHY ME? and not Why are you punishing me etc?, but rather, why such mentality exist in my community and society? What warrants such thinking and behaviour?. So much so, that during trouble times we failed misserably to asist the victims with comfort of our ad-deen.

And for some reason(s) when we failed to provide all the necessary aids to the victims - it has got to be someone's fault of sabortaging their efforts to the aid. Worst reasonings are when we start circulating how others' faith is / are trying to jeoperdise our noble mission. huh !! sound familiar? Yup...many of us are guilting. Very guilty indeed.

Oh come on, how long must we blame others for our inefficiencies? HOW LONG MORE? Stop leaning on our past success but rather learn from our past mistakes to grow !!!

Be it as it is, and not belittling God and HIS warth, my mind has been blogging for words and reasons how and what can be done to undo this behaviour so that we become a truly universal ummah as per our UNIVERSAL ISLAM. Anything unislamic abt it?

I am glad that in the recent quake of the NIAH islands, I've not received any news or emails or anykind rhetorical talks abt some mystical events - perhaps for the fact that the MOAQUEs were not SPARED from the quake (?).

Can i say Alhamdullillah that the mosques crumbled too(?) yes, indeed. Because it stops some sanctions of the ummah who would arrogantly prove his or her point(s) of being BETTER than the rest by such insinuation. waallahualam. or was there such emails i've not been receiving ?

Abt 3 mths ago, i was performing my friday prayer in a mosque in singapore. I was intrigued by the khutbah, where the khatib talked abt the tsunami and he highlighted the rhetorical and gullible reasonings many are embarking - failling to focus / concentrate on the real issues that contribute to the high rise of the victims.

Btw, there is a very very interesting and intellectual article by Mohamed Imram Mohamed Taib published in the MUSLIM READER magazines of DARUL ARQAM (muslim converts society in singapore) vol. 23 no. 1. page 20 - 31

A very well researched work and i encourage everyone to get a hold of it and read it at least once - IF YOU ARE SINCERE in YOUR QUEST for the TRUTH. Even if this article may not present the absolute truth it presents a value approach towards the TRUTH. But of course some of you may find the WRITER TOLOL (BIGOTORY).

(buy hey...my gentle reminder if you are tempted to do so. Pls ensure that you have to bring on yr evidence for such judgement ha).

My take is that the writer presented and truly challenged us to revalidate our faith, our intellectual state and also our sentiments. Above all, it dispelled anykind of rhetorical sentiments and speculation - let alone anykind of mystical reasonings.

In any case, i trust that if we are sincerely seeking the truth, we can hear what others are saying - else another bigotory begets.

Praying for yr spiritual advancement as i've wished u've prayed for mine. InsyaAllah. amin.
/dzan

Tuesday, May 03, 2005

pesan

pesan datuknenek
bila bercakap malam
berpandang-pandang lah
jangan sampai luka berdarah
akibat tersondol bucu
sendiri yang bercelaru

pesan mereka lagi
bila bercakap siang
berdengar-dengarlah
agar jelas dalam ikhlas
mulut dan laku tiada cemas

pesan para nabi
berbicaralah dengan akal
sebab buat dan ungkapan durjana
tiada layak mengutara
bisu bakal menjadi tegar
malah bisu hebat dan berhemat.
tatkala satu jari menunding
beringatlah pada semua
jari yang berpaling

pesan pencipta pula
pastikan suara dan laku
dapat diganding
tiada mungkin sanubari berpaling
dari sudut maha pencipta
biarpun kabur hati ini
dari panahan manusia

/dzan
may 2005

bursting

your heart
must have been filled with victories
manifested deep and quick
throbbing and bursting with joy
to the tip of the universe
back and forth
fearing not
but simply a rhetorical plot.

/dzan
may 2005

Sunday, May 01, 2005

engkau bilang

engkau bilang
hukum mengerti dan memahami
telah pun engkau kuasai
mika-mika yang lain
hanya mampu memurtadkan
martabat hidup dan mati
menyimpang pada kilauan
dari gelap gua yang membuat
diri mu suci

engkau kata
pencipta lengkap mengetahui
mika-mika itu bercelaru
dalam fikir dan tiada suluh
dalam hidup dan mati
sedang engkaulah manusia terpuji

habis kenapa bicara mu
tiada satu dengan laku
menyimpang jauh dari jitu
layak mu bagai
maha sempurna dan tahu..

aku...hidup, mati
dan dihidupkan kembali
tak kan mahu mengerti

/dzan

Saturday, April 30, 2005

suara hati

merebah bahu dipeluk bumi
aku lemas terangkul
tiada daya mengganjur
terkunci lutut
pada tanah keras
terbisik keluhan langit
suara hati bumi yang merekah
yang tak pernah ku indah

kenapa terlalu marah?

inikah langkah para nabi
tertusuk bau tajam pada
deria aku menghidu
bersunnah kah aku?
atau sekadar mewarisi

bersihkah naluri?
atau suci lagi
hapak alas kaki ini?

/dZan
april 2005

cahaya

berakhirlah kemusykilan
tentang kemandulan
tatkala khabar mu dalam kandungan
SAH !!
terbuktilah kesahihan
tentang kesuburan
pada rahim yang sarat
mempercepatkan bulan
GUNDAH !!!

I
lalu,
terperilah ceria dan duka
tatkala kamu hadir seistana
yang mampu berbicara
hanya dalam jerit tanggis
tercabar kedaulatan ayahbonda
sesarat kantung kedaifan.

tapi engkau kental juga
dengan akal berbicara...
memperdewasa ....
Putera !!!

II
justeru bila angin berlalu
bertingkat lagi keluhrasa
bila kamu pula menjelma
dalam diam bersahaja
sesetika juga pantas bernekad

hampir mengalpakan ayahbonda
tentang kewujudan
pada sepi keperdiaman
segali gus menjadi permata
berkilauan....memperseri
PUTERI !!!

III
waktu belari lagi
terpancarlah naluri
dalam kandungan, dalam mimpi
dalam firasat lagi....
sedalam hiruk-pikuk sengsara
lebih sengit memperdekatkan ajal.

syukur juga
terlengkaplah istana
dengan segala sempurna
terpintar juga nama
BUDI !!!

kini..
setulus nikmat dalam sempurna
keluarga....
bercahaya putera, puteri dan budi

ayahbonda mensyukuri!!!

/dzan
Apr 2005

Wednesday, April 13, 2005

paling

engkau lah
yang paling cepat
memberi sapa pada aku
paling kilat memberi ingat
paling pintar memberi maaf
paling tidak,
kasi senyum buat ubat

engkau jugalah
yang paling akrab
menjadi sahabat, tiada penat
sesampailah kita erat, terikat.

aku paling terharu
mendengar dan menerima
kalam ikhlas paling jujur, selamba
fikiran tajam paling bernas, bernafas

lantaran
pada naluri yang paling lesu
menjadi akur
aku....

/dzan
apr 2005

Friday, April 01, 2005

sad, bad and mad

at times i feel sad,
but a voice said don't be mad
for life is just that
it is not your fault
that life turned into naught

many times, i feel mad
but a voice said don't be sad
for life can be as good or as bad
as you can get

sometimes i feel trapped
and the only way out is to be bad
but by then I will probably
have become MAD

/dzan
april 2005

Tuesday, March 29, 2005

apakah ada?

apakah ada sempurna bintang
dipuja tidak meninggi
dinista tidak cengeng
malah terus mengerlip ikhsan
selamba memberi arah
agar tiada yang tersasar

apakah ada sempurna matahari
menerangi iman dan sanubari
menghangatkan kehidupan mashur
tanpa memperdebat iman
memberi tiada hancur

apakah ada sempurna bulan
menampakkan kekufuran pada kejadian
saat diri tidur dalam gelap
saat bermimpikan insaf
sedangkan kufur dalam kalimah iman

aku ngeri, mual, muak dan benci
pada segala kata, laku dan fikir
sekadar berbaur munafik
yang sarat berguni

/dzan

jalan-jalan

jalan-jalan ku lihat ikan
ku sangka pasar ditepi jalan
kiranya lautan memuntahkan
perut yang sarat dengan ketakutan

jalan-jalan ku lihat insan
berlarian bertaburan
kusangka dipasar ada jualan
kiranya jasad berkuburan
bertubi soalan tiada jawapan,
sekadar laungan dan tangisan

jalan-jalan ku lihat bakti
ku sangka semua sedar menginsafi
malang sekadar melindungi
pada insan yang menyamai
masih mencurigai sesama sendiri
sempurna terasa diri

jalan-jalan ku lihat diri
aku menginsafi
tak mahu melihat pada beza yang ketara
sebab tuhan menjadikan kita saksama
sedang khinzir Mulia disisiNYA
kenapa geli hati menghina.

jalan-jalan aku gerun kehilangan
kemuliaan dalam keimanan
walau pun mungkin kalam tuhan
yang hebat aku memperbentakkan

/dzan

Saturday, March 12, 2005

aku dimana?

dalam pada aku mencari aku
aku temui kamu
merangkum hidup, sempurna
tertaksub hukum, setia
terbatal air wudhu
pada kesohor akad
bahagianya...,
kasih kita menjalar
maya ini empunya kita.

dalam pada aku melayani mu,
putera-puteri menyeri, bertingkah,
lantang bersuara, ceria
lengkaplah masjid kita, sempurna
riwayat paling damai, mengiring

dalam pada aku mengenali mu
aku temui aku
engkau semakin layu, bisu
alpa pada hukum, lupa
bisik tiada gemersik, keras
suara tiada lagu, sumbang
kita kian mengganjur...

dalam pada aku memahami aku
engkau tiada perduli,
aku mula menginsafi
keli tiada bertemu asam dikuali...
alam maya tiada suara
aku terpelanting
entah sampai bila

/dzan

Thursday, March 03, 2005

benar

kata bersalut akal
buat bersulam budi
fikir pelita hati
engkau mana pergi?
kemari...
belum habis aku mengerti

jujur mu dimana...
pada kuping lidah?
ikhlas mu pula...
sekadar ditelinga ia menyinggah?

jadi kebenaran itu, dimana pula?
singgah kah dihati?
dimata, di kepala atau
dikaki yang mampu terajang?
jumpakah pada tangan yang panjang?

atau mungkin, kebenaran itu
sekadar disanubari?
walhal laku mu tiada benar
sekadar illusi menghiasi.

kata tuhan
benar bukan pd nafsu
tidak sekadar pesepsi
benar itu pasti
tidak merosak nilai insani

/dzan

cogan kata

ingat selalu ingat
pada dia
taat selalu taat
pada cinta
usaha selalu usaha
untuk bersama
rindu selalu rindu
mahu menyatu.

bahasa SETIA
bakal merangkum hidup mu.

lakarkan usaha dan cita
agar jauh jadi dekat
supaya dekat jadi rapat
lalu rapat jadi rindu
rindu jadi jitu

sebaliknya
gaung bukan cogan kata
mana boleh bosan
bermaharaja lela.

pekik nama Allah
jika berhantu
jangan pulak bomoh
tempat mengadu.

/dzan

sejuta puisi

Sejuta puisi mu
Mendampar para hati, menanti
Membuka segala deria, ceria
Melonjak gelora akal, pejal

Lantas fikir ku deras, menukil
kata ku jadi laju, mengutara
feel ku tak terperi, jitu

akulah,
senyum menjadi akal
lancang azimat membuat
bertangkal pada niat
menjadi hati, empedu...

bicara mu,
ku dengar dan kusahut pasti
senang bertingkah dalam hati
…mahunya
kita sama-sama peka mengerti.

/dzan

Monday, February 28, 2005

pergi

ku lihat jalan keluar
bila saja aku maju masuk
aku terkapar meraba
tak tahu mengerti
cuma dikhabarkan tentang pergi
sedang aku leceh kemari

aku bertanya
tapi jawapannya dusta
sebak dan perit
serik aku jalu tak menentu
terlalu banyak bohong
pada nilai asas hidup

/dzan

Departure

I saw the exit
at the entrance
i walked through
without knowing what's therein
i was told of the departure
at my arrival
all words seems so untrue
no adventure
but pains and disillusion

i asked thee, frankly
but lies and deceits persist
too many mis-construes
in that basic virtue

/dzan
feb 2005

Wednesday, February 23, 2005

salam buat ratu

kalau aku memberi salam
kau akan menjawab bukan?
tidak sekadar mengintai
dicelah
bingkai tingkap yang rapat
malah kau akan ramah
senyum, didada pintu yg terbuka
menyambut aku mesra

kau mesti tahu siapa aku
kau harus jujur sahut salam ku
kau pasti hangat dek dakapan ku
kita mesti ceria punya

amboi !!!
seronok berkasih
dengan mu

/dzan

Kenapa

bila aku datang
kenapa engkau pergi
kemana engkau hilang
sedang aku setia menanti
bagaimana pulak mereka yang disini?
tak kan engkau mahu berlari

ingat,
sudah nyanyuk ingatan ku
berapa tinggal gigi mu?
kuning, hitam, putih
tak terperi uban mu

berjuta ke?
bulan dan matahari?
yang sinar mendidih
setia bersama kita dulu
tapi kini
hati ku basah dan beku

cairkan aku !!!

hari itu
bertatih aku kehujung pelangi
fikir ku
tentu ada emas menanti
sedar aku hanya
bila disentuh dan disapa
buih....geli

aku terjaga
engkau lama tak menyapa
membelok, terus lolos
kenapa?

/dzan
feb 2005

Tuesday, February 15, 2005

Begini-Begitu

kalau pun aku begini
engkau jangan begitu
sebab kalau engkau begitu
aku yang tak menentu


kalau pun aku begitu
engkau jangan begini
sebab kalau engkau begini
aku tak mahu dekati


begitu engkau
aku cemas
begini aku
engkau lemas


habis..
begitu begini
kita jangan berkelahi....


/dzan
Feb 2005

Biarkan lah

biarkanlah sentuhan itu
tidak terasa bagi nya
biarlah suara itu
tidak didengarnya
yang pasti... tuhan
menyahut
mimpi dan tangisan ini
apa lagi doa ku hakiki

demi tuhan,
izinkanlah ketenangan itu
menderu
usah biarkan hati ini
terguris dek insan itu
yang sekadar membisu
atau ketika lidahnya
lancang bercelaru

kau kentalkan hati dan akal ku
bersatu bersama MU.

Engkaulah maha segala,
memberi dan mengambil
tidak berdusta dan ketahui pasti
akulah teraniaya dan menganiaya

Tuhan ku,
tunjukkan aku
jalan yang jitu
izinkanlah hati aku
tersenyum selalu
dan meraih cinta murni MU


/dzan
feb 2005

insaf

SIHIR ! engkau mejerit
DUSTA ! aku merintih
FITNAH ! tuhan bersaksi

kenapa tuba disirami
sedang madu yg disisip
dimana timbulnya sabut
kemana tenggelamnya batu
tiap suara yg kau sebut
akan semua jadi lagu
mendayu tanpa erti
melayang ke angkasa

lantaran rugi yg tertanggung
tak berbaloi apa juga untung

lagakmu layak tupai
angkuh mu bagai badai
hanya mampu melompat
....menhempas
meranap kerikil
meluncur bersama air
bergoyang bersama bumi
lalu menghambat naluri
dari terus menabur budi
pupus segala ikhsan dihati

aduh, pedih
dengan dongeng mu
ahak, lucu
dengan angan mu
amboi layak lakonan mu
masyaAllah, insaf
menyampuk diri ku.

/dzan
Feb 2005

suap

sudahkah kau kasi tahu
pd puting beliung
bahawa ubi ku habis
padi ku bertaburan
pucuk paku hanya tinggal ranting
namun anak-anak masih selamba
cuma aku saja yg
semakin geli dan nyeri

sudahkah aku bilang
pd engkau, ketua desa
bahawa orang2 kampung
hilang arah
dan tak mampu berlapar
tak mampu bersedekah

engkau masih ketua
aku sudah hilang segalanya..
ceria nan ayu
keyakinan pd diri
dan semangat yg jitu
cinta ku
entah hanyut dek arus itu

tunjukkanlah aku,
titian cinta kasih
disebalik ketuk ubi,
dalam pada bau nasi basi
dicelah cucur ranting pucuk paku

suapkan rongga naluri ini
agar kenyang dgn ikhlas mu
biar hangat dgn semarak cinta mu
supaya semangat kembali jernih
dgn sentuhan mu

asal saja kasih mu lah
yg menyuap aku

/dzan
feb 2005

Wednesday, February 02, 2005

To whatever that is lost

if i ask you why
would you tell me straight
or would there be another lie
or just another twisted deed
with treachery and deceits?
or just another ill-treat?

had there been honesty
would there be jilt?
had there been sincertiy
would there be deceit?
had there been friendship
would there be hardship?
had there been luv
would there be hurt?

where are the promises?
a friend that is near?
a shoulder so dear?
a word so sincere?
what abt the gestures?

here's to luv...
here's to friendship
here's to honesty
heres's to sincerity
and here's to whatever
that is lost sinking deep
a dark memory that i'll keep

/dzan
1st feb 2005

Friday, January 07, 2005

Gunung Jangan Pula Meletus

This is one article worth reading. Long but provide a very good perspectives. Spend some time reading once, twice or more.

Gunung Jangan Pula Meletus

Oleh Emha Ainun Nadjib
January 2005

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun.
Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya?
Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya?
Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.

"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!," aku menyerbu.
"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"
"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga."
"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?"

"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."

"Termasuk Kiai...."

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.

"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?"

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya
terguncang-guncang.

"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya.

Aku menjawab tegas, "Ya."

"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"
"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan."

"Sampai kapan?"
"Sampai kapan pun!"
"Sampai mati?"
"Ya!"
"Kapan kamu mati?"
"Gila!"

"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut.
Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kamu menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!"

""Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter...."

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.

"Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."
"Kewajiban apa?"
"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya.

Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah.
Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk.

Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya.
Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-
"Kupinjamkan dinding ini kepadamu...." "Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.
"Pakailah sesukamu."
"Emang untuk apa?"
"Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."

"Sinting!"
"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh."

Ia membawaku duduk kembali.

"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.

"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wasallah, tahu?
Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri.
Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm.
Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah.
Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi.
Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua
dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya.
Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya.
Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.

"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim...."

"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak yakin?"
"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."
"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi."
"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."

"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?"

"Aceh, Kiai, Aceh."

"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia.
Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia.
Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka
adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka.
Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini.

Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".

"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan."

"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu.
Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan- berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati."

"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?"

"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama.
Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"

"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."

"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan.
Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat.
Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup."

"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan...."

"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak,
"Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur."

"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?"

"Sampai siang ini, ya.
Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat.
Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan...."

"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.

"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.

"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...."

"Kenapa kau sebut bencana alam?
Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan,
kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

Emha Ainun Nadjib Budayawan
Forwarded by :
AlBarakah Niaga
"Happy Maid Satisfied Employer"
013-364-1464 019-389-4142

Friday, November 19, 2004

Bezanya Shawal ini

beza nya shawal ini
senyum ku kembali mengukir
sebab kasih yg kabur kembali jernih
jelas membayangkan kedut diwajah
dlm samar curahan air langit
yg membasahkan bumi
dan sekali gus mendamaikan hati

aku ketawa dek
bersungguhnya hilai putera-puteri ku
memohon restu dan bertakbir
berkiblat pada yg satu.

namun terhiris juga
sebab serphihan
kisah kufur menantu
cerita ipar yg berhantu
kisah ibu bapa yg sayu
pedihnya ummahku yg bercelaru

disini shawal ini
terinsaf jua
pd liang yg tak mungkin berlalu
sekadar menanti aku beradu

shawal ini
hendaknya daya aku berjernih hati
lalu kembali fitri ke pangkuan izati....
dalam ketawa, dlm tangis, dlm sepi
dlm dosa, dlm pahala dan
dalam seadanya

setidaknya, terasa juga
shawal ini berbeza

/dzan
17th Nov 2004

Ramadhan & Syawal: Kenapa tiada Beza?

Ramadhan ini…tiada bezanya…
ummah ku masih kufur dalam IMAN
masih menganiaya dan teraniaya
merasa diri segala sempurna
memesong kiblat dan hala tuju
lancang mendua pencipta ayah-ibu
Syirik, lalu pupus segala jati
semuanya dikata atas nama yang esa

Ramadhan ini sama saja
banyak insan lapar dalam berbuka
Sedang muslimin buncit ketika berpuasa

Anak2 dahaga menggapai cinta
Sedang orang tua tak luak kasih melata
wal hal insan yatim, manusia fakir,
orang yg tak berupaya
merasa syukur dan sempurna dalam tiada

Ramadhan ini macam biasa
Tiada insaf …
hanya rasa sempurna DIRI
dgn ibadah yg dikumpul,
sedekah yg diberi,
zikir yg memuji dan
dgn juadah yg dipenuhi

ummah ku terencat...
untuk maju mara
sekadar berhelahkan ISLAM
dgn rasa DENGKI dan menunding jari

Ramadhan ini...
langsung tak dihormati

Syawal ini tak ada maknanya
Sebab ada insan yg ketagih kasih keluarga
Ada ummah yg hilang cahaya
Ada muslim yg membenci kafir
ada manusia angkuh
pada ibadah dan kesempurnaannya

Raya ini dimana insaf?
kenapa tiada beza?

/dzan
10 Nov 2004

Wednesday, June 09, 2004

On Maturity and Uniquely Me !!

In the Name of Allah Most Gracious Most Merciful

Assalamualaikum,

If words have any meaning whatsoever, probably I will not be easily misunderstood. Perhaps I do have very distorting views about life and also perhaps I am too petty and bitter about life (as what others have claimed) - thus I conclude and pre-judge everything around me. So it is about me ha?

Ironically though, life is not about me, but rather it revolves around our family, society and nation (ummah). That worries me. Like it or not, we are part of this nation building thus we must strive to be responsible individuals. Seeing my family (equates to community) taking things for granted with treacherous intentions make me cry every time.

The truth is my words can never be as vivid as others would like it to be. Isn’t life itself never was / is a vivid journey? Perhaps my inability to compose my thoughts is the stem of it. Or simply, I’m a biggest GUNDHU ever. At this moment in time, I am rather disappointed and frustrated with my very own community and family perhaps. Never would I want to give up on them, but constantly I’ve been compelled to - by the response. Never mind the pain in this life and to conclude I have not. But it rather ironic when others did it just that after saying that “they are not judgemental but I am guilty of such”.

Desperately I always thought that I am making constant efforts to Reproof, Rectify and Repent on all things that surrounds me – until I received cynical conclusions by others. How ironic. And my personal views are NEVER absolute – suggesting that I said it is(?) I smirk that thought and yes, you must be kidding if I ever feel that way, for I know, my personal views and experiences are NO LESS OBSOLUTE to a FATWA issued by our mufti.

Thus, yet again, I’m reproving, rectifying and repenting myself and instead of uttering and get misunderstood, here are some aspiring words by the experts about Maturity and Uniquely me. This I thought is an Islamic wisdom in action. For years, I have thought there is something horribly wrong about me, until every now and then I’ve been reminded how normal I am indeed.

And these words summed it all.

“ The most important lesson I have learned about maturity is that the emergence, the full development, of what is uniquely me should be an important concern throughout my entire life. There are many other important concerns but this particular one must never be submerged, never be out of sight.

This I learned the hard way. There was a long “wilderness” period in which I sought resources outside myself. I looked for an “answer” to the normal frustrations of life (frustration used in the sense of the blocking of motives to which one cannot make a constructive response). Good years went by. No answers came. It took a long time for me to discover that the only real answer to frustration is to concern myself with the drawing forth of what is uniquely me. Only as what is uniquely me emerges do I experience moments of true creativity; moments which, when deeply felt, temper the pain of long periods of frustration that are the common lot of most of us and gives us the impulse and the courage to act constructively in the outside world.

Every life, including the most normal of the normal is a blend of experiences that build ego strength and those that tear it down. As one’s responsibilities widen, these forces become more powerful. As good a definition as I know is that maturity is the capacity to withstand the ego-destroying experiences and not lose one’s perspective in the ego-building experiences.

But this takes a special view of the self. The sustaining feeling of the personal significance is important. It comes from the inside. I am not a piece of dust on the way to becoming another piece of dust. I am an unique instrument of creation, unlike any that has ever been or ever will be. So is each of you. No matter how badly you may be shaken, no matter how serious the failure or how ignominious the fall from grace, by accepting and learning you can be restored with greater strength. Don’t lose this basic view of who you are.”

R.K GreenLeaf
Teacher as Servant – a Parable, Page 50-51
The Greenleaf Center 2002

By the way, I do believe that every single western ideas, knowledge and wisdoms are uniquely spawned and borrowed from the Islamic civilization and wisdoms. Thus I only acknowledge that all knowledge are indeed from Allah S.W.T alone and not uniquely theirs.
And I recommend this book a "MUST READ BOOK" to anyone who sincerely care and like to help others - without fame and glory or anykind of credits in return.

Praying for your spiritual advancement as I’ve wished you’ve prayed for mine. InsyAllah. Amin.

/dzan